SAPAAN PENGASUH


Selamat bertemu buat para pembaca dan pengunjung blog ini. Kiranya Tuhan kita Yesus Kristus, yang memanggil kita semua kepada kesempurnaan hidup dalam Bapa dan kekayaan rohani dalam KerajaanNya menganugerahkan kegembiraan dan kesuksesan dalam hidup, pelayanan dan keseharianmu.

Anda mengunjungi blog RETRET & REKOLEKSI PASTOR UDIK. Saya suka nama itu, bukan saja karena karya pastoral awal saya sebagai imam, saya lewati sambil mengunjungi berbagai kampung yang sering dicap udik alias kurang maju, tetapi juga karena mengingatkan saya, akan Yesus dari Nasareth, pastor dan gembala sejati yang para muridnya adalah orang-orang sederhana, udik dan marginal.

Apa ada persamaan di antara kita yang mengunjungi blog ini dengan para murid Yesus itu? Saya kira ada dan hal itu adalah kesediaan kita untuk duduk sambil mendengarkan DIA, sang Guru Rohani, Maestro Kehidupan yang tengah bersabda kepada kita.

Selamat menikmati sajian di blog sederhana ini. Selamat menarik diri dari keseharianmu dan menikmati detik-detik berharga berada sang Guru, Pastor dan Gembala dari udik, mulai dari Nasareth hingga ke kampung dan dusun udik pengalaman kita.

Kiranya Tuhan memberkati kita.

Ansel Meo SVD

Jumat, Juni 27, 2008

KITAB SUCI DAN HIDUP RELIGIUS (2)


Kita Membaca Kitab Suci Sebagai Sabda Allah

Dengan langkah gontai Anna memasuki ruang pertemuan itu. „Ah … membosankan! Dia lagi yang datang berikan ceramah hari ini,“ gerutunya dalam hati, sambil mengeluh tentang seorang pemberi ceramah mingguan tentang Kitab Suci.

Tetapi sudah komitmennya untuk terus menghadirinya. „Hari ini kita mulai pertemuan kita dengan membaca bersama Kitab Suci“. „Kenapa mesti membaca lagi dan lagi. Sampai kapankah ini berakhir? Kenapa tidak langsung ke tujuan, yakni ceramahnya saja.“ Sebel rasanya, tapi dia ikut membaca teks yang diminta hari itu.

„Kamu tak perlu mempelajarinya dulu. Tetapi dengan membacanya, kamu akan bisa bertemu dengan Dia yang sedang berbicara“, kata-kata sang guru ini bergema dan terus berulang terngiang kembali di telinganya. „Benarkah aku akan bertemu dengan Dia yang berbicara di sana?“

Diapun membuka Kitab Sucinya, dan mulai membacanya. Dia membaca dan membaca, sampai suatu ketika dia mengangkat matanya dari Kitab Suci itu. Tak ada orang di sana, terkecuali dirinya seorang diri. Dia termenung, “Aku telah membenarkan apa yang dikatakan kepadaku oleh penceramah itu. Ketika membacanya, aku cerasa di sapa sendiri olehNya. Tetani di manakah dia dan semua temanku tadi?” tanyanya kepada dirinya sendiri. Ternyata dia memang tengah tertidur di depan meja belajarnya ketika dia menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Dia bermimpi tengah mengikuti sebuah ceramah tentang Kitab Suci.

@@@

Hidup Anna memang bukan hidup religius. Tetapi baginya sama seperti bagi semua orang Kristen, inspirasi Sabda Allah harus menemani langkah dan perjuangan hidupnya. Dia merasa wajib untuk membaca Kitab Suci, buku kehidupannya, dan buku kehidupan Gereja.
Bagaimana dengan hidup religius? Haruskah kita membaca Kitab Suci setiap hari? Mengapa?

Membaca Kitab Suci bersifat vital dan harus dilakukan setiap hari, sebagai sebuah bagian integral dari makanan spiritual harian kita dan rutinitas harian kita, seperti halnya kegiatan makan-minum setiap hari. Seperti juga makan-minum setiap hari akan memelihara dan menguatkan kita, maka pembacaan Kitab Suci setiap hari pun akan membawa kekuatan Allah ke dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sejak pembaptisan kita memasuki proses pertumbuhan untuk menjadi gambaran Kristus. Proses ini akan berakhir dengan kebangkitan badan kita ke dalam persatuan kekal dengan Dia. Sepanjang proses itu, Allah terus memanggil kita untuk bertumbuh dalam cinta kasih dan pemuridan. Sepanjang waktu kita harus mendengarkan sabda Allah yang berbicara kepada kita, memberi isyarat kepada kita. Dengan demikian kebutuhan kita untuk membaca Kitab Suci guna mendengarkan suara Allah tak pernah akan selesai.

Kompleksitas Kitab Suci dan kedalamannya tak akan pernah dapat habis digali. Akan tetapi janganlah kenyataan itu dari sejak awal sudah mematahkan semangat kita untuk membacanya. Kita dipanggil untuk membaca Kitab Suci bukan agar lulus ‘test’ pada akhir bulan atau akhir tahun nanti. ‘Test’ kita akan datang pada akhir hidup kita di dunia fana ini, dan yang ditanyakan dalam ‘test’ itu pun adalah ‘cinta kasih’ kita (baca Mat 25:31-46), bukannya keahlian kita dalam hal-ikhwal Kitab Suci. Allah telah memberikan Kitab Suci guna menolong kita untuk lulus ‘test cinta kasih’. Kita juga jangan terlampau risau atas hal-hal yang kita tidak kita ketahui perihal Kitab Suci itu. Seharusnya kita merasa terhibur bahwa Allah telah memberikan kepada kita Kitab Suci sebagai sebuah sarana untuk bertumbuh dalam iman, dalam harapan, dalam cinta kasih, dalam persatuan dengan-Nya.

Allah memberikan kepada kita 1440 menit untuk hidup setiap harinya. Apabila kita menggunakan 15 menit saja dalam sehari untuk membaca Kitab Suci dalam suasana doa, maka hal ini akan membuat perbedaan atas sisanya yang sebanyak 1425 menit. Kalau kita dengan setia memakai beberapa menit setiap hari, sendiri saja bersama sabda Allah, maka usaha ini akan memainkan peranan yang sangat penting sehubungan dengan transformasi kita dalam Kristus.

Kita harus sadar bahwa Kitab Suci bukanlah sebuah ‘book of magic’. Kitab Suci pada dirinya sendiri tidak dapat mengubah hidup kita, berapa banyak pun yang telah kita baca. Akan tetapi Kitab Suci dapat menjadi sebuah sarana di mana Roh Kudus yang sama, yang telah menginspirasikan para penulis Kitab Suci, dapat menginspirasikan kepada kita –bukan hanya untuk memahami apa yang kita baca, tetapi juga memberdayakan kita untuk masuk ke dalam realita yang kita baca. Apa yang suci bagi kita perihal Kitab Suci adalah bahwa, melalui kata-kata yang tertulis dalam Kitab Suci itu kita dapat mendengarkan sabda Allah, dan dengan mendengarkan serta mentaati sabda Allah kita dapat ditransformir menjadi gambaran-Nya sendiri.

Kitab Suci bukanlah sebuah buku untuk dipelajari dan dikuasai seperti buku sejarah, bukan juga seperti buku cerita detektif. Kitab Suci adalah sebuah buku yang setiap hari kita harus kembali kepadanya, membaca kembali nas-nas yang sudah kita kenal, agar kita dapat masuk lebih dalam lagi ke dalam misteri yang diwahyukan oleh nas-nas itu.

Konsili Vatikan II melalui konstitusi Dogmatik Dei Verbum No 13, yang dikutip oleh Buku Katekismus Gereja Katolik no. 101 menjelaskan,
“Untuk mewahyukan Diri kepada manusia, Allah berbicara dalam kebaikan-Nya kepada manusia dengan bahasa manusiawi: "Sabda Allah yang diungkapkan dengan bahasa manusia, telah menyerupai pembicaraan manusiawi, seperti dahulu Sabda Bapa yang kekal, dengan mengenakan daging kelemahan manusiawi, telah menjadi serupa dengan manusia"

Dan Katekismus no 104 masih melanjutkan,
“Di dalam Kitab Suci, Gereja selalu mendapatkan makanannya dan kekuatannya karena di dalamnya ia tidak hanya menerima kata-kata manusiawi, tetapi apa yang sebenarnya Kitab Suci itu: Sabda Allah. "Karena di dalam kitab-kitab suci Bapa yang ada di surga penuh cinta kasih menjumpai para putera-Nya, dan berwawancara dengan mereka" (DV 21).

KITAB SUCI DAN HIDUP RELIGIUS (1)

Hidup Religius Tak Bisa Dipisahkan Dari Kitab Suci

Romana Kewa, yang akrab di sapa dengan Anna adalah seorang gadis muda berusia 19 tahun, ketika pertama kali saya bertemu dengannya. Waktu itu saya bekerja sebagai pastor pembantu di sebuah paroKi di Flores di tahun 1994.
Ia barusan tamat SPG, rupanya jurusan Taman Kanak-Kanak, karena ketika itu ia mengajar Taman Kanak-Kanak di parodi serta aktif membimbing anak-anak Sekolah Minggu yang diadakan di paroki saat itu. Seorang gadis cantik memang, apalagi dengan kepandaiannnya membawa diri, banyak orang menyukainya, begitupun anak-anak yang bE bawah asuhannya. Ia juga aktif di Mudika, terutama karena ketrampilannya menyanyi dan kemampuannya melatih rekan-rekannya. Ia luwes, dikenal olEh banyak orang, dan tentu saja dicintai oleh para pemuda yang memang mengincarnya.

Segalanya berjalan normal bagi Anna, sampai saat kunjungan para Suster dari sebuah tarekat yang bekerja di wilayah Keuskupan itu. 9 orang suster muda dikirim oleh tarekatnya untuk mengadakan program ‘hidup bersama orang sederhana’. Dua minggu lamanya mereka brada di sana, tinggal di rumah keluarga, bekerja di kebun, di sekolah, mengikuti pekerjaan sehari-hari dari keluarga di mana mereka tinggal. Dan sebagaimana kebiasaan setempat, malam hari merekapun berdoa rosario bersama bergilir karena saat itu bulan Oktober, bulan Maria.

Di rumah orangtua asuh Anna, menginap juga seorang suster muda, Suster Roslin. Bersama Anna keduanya terasa cocok dalam segalanya, sering bersama bepergian, bahkan Suster Roslin juga pergi membantu Anna mengajari anak-anak TK. Kebetulan sekali usia keduanya sebaya.

Di suatu kesempatan doa bersama, Suster Roslin memimpin mereka dalam sebuah renungan Kitab Suci.
“Barang siapa yang tak mengenal Kitab Suci, tidak mengenal Kristus,” suster membuka renungannya. Ia berbicara lancar, luwes, menyenangkan semua yang mendengarnya, juga Anna. Usai doa itu, ketika hendak tidur, tiba-tiba pintu kamar suster diketuk Anna. Lama tak terdengar jawaban, tidak juga terdengar langkah kaki. Rupanya suster sudah tidur. Tapi Anna mengetuknya lagi. 10 menit berlalu, pintu terbuka, dan suster menatap Anna, “Ada apa Anna?” “Apa kita boleh cerita lagi suster?” tanya Anna. “Mari kita picara di dalam kamar saya.”
Keduanya masuk kamar yang ditumpangi suster Roslin. Mata Anna terpaku di sudut kamar itu. Di atas meja kecil itu masih terdapat lilin bernyala, dan sebuah Alkitab sedang terbuka. “Maafkan saya Suster, saya telah memotong doamu”. “Tak mengapa Anna, lagipula saya sudah selesai tadi”. Dan keduanya melanjutkan cerita mereka, tentang banyak hal dan juga banyak orang dan peristiwa.
Malampun semakin larut, “Kita harus tidur Anna. Nanti kita lanjutkan esok”. Bagi Anna masih ada pertanyaan tersisa di benaknya malam itu. Dan sebelum keluar kamar itu, ia bertanya, “Boleh bertanya yang satu ini suster : mengapa kita mesti mengenal Kitab Suci?”
Suster Roslin memandang wajah Anna. “Saya juga tidak sepenuhnya mengerti Anna, tetani saya melakukannya. Dan sampai kini saya menyukainya. Kalau engkau juga mulai mengenalnya, engkau akan menemukan jawabannya. Selamat tidur Anna”.

&&&

Anna memang amat penasaran menghubungkan hidup suster Roslin dengan doa-doanya. Di sana ia juga mempertanyakan “mengapa Kitab Suci justru menjadi penting dalam pernyataan suster, baik dalam renungan maupun dalam cerita mereka berdua.
“Suster, mengapa kita mesti membaca Kitab Suci?” itulah pertanyaan Anna yang telah dijawab oleh suster Roslin secara sangat menarik minat Anna, “Saya juga tak sepenuhnya mengerti, tetapi saya telah menjalankannya, dan kurasa saya menyukainya”

Haruskah hidup seorang biarawati atau biarawan seperti Suster Roslin dikaitkan dengan Kitab Suci? Jawabannya adalah MEMANG SEHARUSNYA DEMIKIAN. Secara amat sederhana, kita boleh mengatakan bahwa hidup seorang biarawan/wati memang tak bisa dipisahkan dari Kitab Suci. Suster Roslin adalah satu di antara mereka yang menjalankan apa yang dikenal sebagai HIDUP RELIGIUS atau HIDUP BAKTI. Hidup Bakti memang berkaitan erat dengan Kitab Suci, sebagaimana hakekatnya.
Tentang ha lini Dekrit tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius mengatakan,

“... Adapun sejak awal mula gereja terdapat pria dan vanita yang dengan mengamalkan nasihat-nasihat Injil, bermaksud mengikuti Kristus secara lebih bebas dan meneladaniNya dengan lebih setia. Dengan cara mereka masing-masing, mereka menghayati hidup yang dibaktikan kepada Allah…” (no. 1)
“… a). Tolok ukur terakhir hidup religius adalah mengikuti Kristus menurut Injil. Maka semua tarekat hendaknya memandang itu sebagai pedoman tertinggi … (no.2)

Jadi Hidup Religius yang akan dan sudah kita masuki sekarang erat berkaitan dengan Sabda Allah. Dan sabda itu kita temukan dalam Kitab Suci kita. Makanya tidak terlalu heran kalau setiap calon misalnya diminta sebagai kelengkapan waktu masuk, yakni sebuah KITAB SUCI.

1.1. Kitab Suci atau Injil itu adalah Khabar yang mengembirakan. Evangelion = khabar gembira = Injil. Suster Roslin dalam pesannya tadi bilang begini, “Saya tidak banyak mengerti mengapa, tetapi ketika saya melakukannya, saya menyukainya. Dengan kata lain, itu menyukakan hatiku.”

Kita pada akhirnya harus menjadi khabar yang menggembirakan itu, artinya mampu membuat orang lain tergerak untuk mencintai Kitab Suci sebagai Sabda Allah yang menyelamatkan mereka di setiap situasi hidupnya.

1.2. Kita memang dikenal dengan nama yang punya kaitan langsung dengan Injil. Kita adalah orang yang dipanggil secara khusus untuk mengamalkan nasihat-nasihat Injil secara khas yakni dengan mengikrarkan kaul-kaul :

· Kemurnian “demi Kerajaan Sorga“ (Mat 19:12)
· Kemiskinan sukarela seperti Kristus (Mat 8 : 20)
· Ketaatan untuk semata-mata melaksanakan kehendak Bapa (Yoh 4:34)

Kita dikenal khas karena ketiga hal ini, dan tentu ini berkaitan dengan Injil, Kitab Suci. Jadi aneh, kalau menemukan seorang suster, bruder, pastor, frater yang tidak tahu dan tidak mengenal Kitab Suci dengan baik.

1.3. Doa-doa yang wajib untuk kita adalah doa yang sangat bersumber pada Kitab Suci. Doa Offisi, doa Rosario, doa khas serikat dan segala doa yang lainnya pada umumnya bersumber pada Kitab Suci.

Ketika Suster Roslin tadi melakukannya dalam doanya, itu menimbulkan keinginan tahu di hati Anna, gadis yang secara pelahan tertarik akan hidup religius, justru karena pertanyaannya akan Sabda Allah dalam Kitab Suci.
@Anselmo SVD - Roma, 2008