SAPAAN PENGASUH


Selamat bertemu buat para pembaca dan pengunjung blog ini. Kiranya Tuhan kita Yesus Kristus, yang memanggil kita semua kepada kesempurnaan hidup dalam Bapa dan kekayaan rohani dalam KerajaanNya menganugerahkan kegembiraan dan kesuksesan dalam hidup, pelayanan dan keseharianmu.

Anda mengunjungi blog RETRET & REKOLEKSI PASTOR UDIK. Saya suka nama itu, bukan saja karena karya pastoral awal saya sebagai imam, saya lewati sambil mengunjungi berbagai kampung yang sering dicap udik alias kurang maju, tetapi juga karena mengingatkan saya, akan Yesus dari Nasareth, pastor dan gembala sejati yang para muridnya adalah orang-orang sederhana, udik dan marginal.

Apa ada persamaan di antara kita yang mengunjungi blog ini dengan para murid Yesus itu? Saya kira ada dan hal itu adalah kesediaan kita untuk duduk sambil mendengarkan DIA, sang Guru Rohani, Maestro Kehidupan yang tengah bersabda kepada kita.

Selamat menikmati sajian di blog sederhana ini. Selamat menarik diri dari keseharianmu dan menikmati detik-detik berharga berada sang Guru, Pastor dan Gembala dari udik, mulai dari Nasareth hingga ke kampung dan dusun udik pengalaman kita.

Kiranya Tuhan memberkati kita.

Ansel Meo SVD

Jumat, Desember 05, 2008

ADIL DAN BENAR (2) : FOKUS HIDUP KOMUNITAS - KEHENDAK ALLAH DAN PELAKSANAANNYA

“Menemukan Allah dalam Doa dan Karya”

Teks Matius 7: 7-11

7. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, 10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan? 11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
12 “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah seluruh isi hukum Taurat dan kitab para nabi.

Pengantar :

Membicarakan tema tentang Kehendak Allah bukanlah sesuatu yang mudah. Kalau berbincang-bincang tentangnya saja tak mudah, apalagi melaksanakannya dalam hidup. Saya ingin mengajak kita untuk merenungkan satu hal penting dalam hidup komunitas beriman, yakni tentang fokus hidup komunitas.

Dalam tradisi Gereja Katolik, terutama St. Agustinus menyatakan bahwa adalah lebih sulit untuk melak-sanakan kehendak Allah daripada untuk mengetahui-Nya. Juga Santo Paulus menyatakan hal yang sama, bahwa dia tidak dapat melaksana-kan kehendak Al-lah yang telah ia ketahui dengan baik.
Lalu bagai-mana dengan men-jadikan kehendak Allah itu sebagai fokus dan perhatian utama hidup dan kegiatan komunitas? Hemat saya, ketika sebagai komunitas menjadikan kehendak Allah sebagai fokus utama, sebagai visi yang menggerakan tingkah laku dan tindakan kita, sesungguhnya kita sedang bergumul dengan persoalan rahmat Allah, yang boleh kita tegaskan kepada sumber yang menguatkan dan mengarahkan kehidupan komunitas kita. Dan rahmat yang dimaksud, secara sederhana bisa dicapai melalui dua hal yakni melalui doa dan melalui aksi atau karya komunitas dan para anggotanya.

Veronika Harley dan Doa untuk Kesembuhan

Suatu pagi di bulan Maret 1996. Dering telpon di kamar tidurku membangunkan saya. Tidur panjangku harus kuakhiri dan saya bergegas bangun menghampiri telpon di meja kecil tak jauh dari tempat tidurku.

Hallo, ... ini dengan Pater Ansel khan?” suara di seberang sangat kukenal. Anne Sweeney rupanya, seorang ibu guru SMU St. Sisilia di kota Derry, Irlandia Utara. Keluarga Anne kukenal sangat baik, semenjak kedatanganku di paroki Keluarga Kudus, Ballymagroarty, Derry, empat bulan setelah bergulat dengan bahasa Inggrisku. “Anda benar, Anne! Ada apa telpon aku di pagi buta begini?” tanyaku.

“Pater, kenal Veronika dan John suaminya khan?” sambung Anne. Belum sempat aku konfirmasi, Anne sudah melanjutkan pembicaraannya. “Kemarin pagi, Veronika diberitahu dokternya, bahwa ia menderita penyakit kanker rahim yang ganas, sementara itu dia juga sedang mengandung anaknya,” Anne memulai kisahnya tentang Veronika, saudarinya, yang memang lagi tengah hamil 4 bulan. “Berita itu benar, karena foto ronsen (x-ray) membuktikan bahwa ada kanker ganas itu,” lanjut Anne. “Veronika diminta untuk menggugurkan bayinya, jika ingin menyelamatkan hidupnya.” Suasana hening ... kurasakan pergulatan Veronika dan John suaminya saat itu. Haruskah ia memilih hidupnya sendiri, yang pasti juga berakibat bagi hidup lima anaknya yang masih kecil? Ataukah memilih hidup sang janin kecil berusia empat bulan di rahimnya, yang berarti mengambil resiko bagi hidupnya sendiri. “Pater, ... kita bisa membantunya khan!” maksud Anne dengan permintaan itu bisa kutebak. Dan saya berkata, “Datanglah jam 09.30 pagi ini dan ajaklah Veronika bersama suaminya.

Tepat jam 09.30 pagi, Anne datang bersama keluarganya dan juga bersamanya ada Veronika, John serta anak-anak mereka yang masih kecil. Kusambut mereka di pendopo pastoran yang memang luas untuk menampung mereka semuanya. Kunyatakan simpatiku pada Veronika tentang sakit yang dideritanya. Dan Veronika yang memulai pembicaraan, “Pater, saya ingin bayi di kandunganku hidup dan saya ingin juga saya serta anak-anakku semua hidup. Karena itulah saya mau mengambil resiko.” Dia berhenti sejenak. Lalu lanjutnya, “Kami mau meminta Pater untuk mendoakan kehidupan kami semua dalam ekaristi Pater. Kami minta Pater dan umat paroki ini berdoa novena bersama kami,” ia meminta dengan mata berkaca-kaca tak bisa menahan deraian air matanya. Kupegang tangannya, dan saya berkata, “Tuhan memiliki rencana dan kehendakNya atas hidup kita. Tuhan yang adalah Kehidupan itu pasti telah mendengarkan jeritan hatimu sekeluarga. Dan karena itu, sejak pagi ini, Ekaristi kudus akan kupersembahkan buatmu, buat bayi yang tengah engkau kandung, dan buat anak-anak dan keluargamu.”

Dan pagi itu, dalam Ekaristi pagi jam 10.00 saya mempersembahkan intensi dan novena bagi kesembuhan Veronika. Di rumah merekapun, doa tak henti-hentinya dipanjatkan bersama keluarga dekat dan tetangga mereka untuk intensi ini. Sebagaimana janjiku, semua perayaan ekaristi yang kurayakan sejak hari itu sampai sembilan hari ke depan, kupersembahkan bagi intensinya.

Delapan hari kemudian, sesuai dengan jadwal, Veronika ke rumah sakit menemui lagi dokternya. Seperti biasa, foto ronsen pun dibuat, dan ... hasilnya menun-jukkan bahwa di rahimnya tak ter-dapat lagi kanker ganas itu. Ronsen-pun diulangi, dan hasilnya tetap sa-ma. Di rahimnya hanya ada bayi kecil 4 bulan, buah hatinya.

Keesokan harinya, sebelum misa jam 10.00 pagi, Veronika dan John datang, “Pater, intensi misa pagi ini berubah. Bukan lagi memohon kesembuhan bagi-ku, tetapi syukur atas kesembuhan-ku,” kata Veroni-ka kepadaku. Saya tak mengerti, “Ada apa, Veronika? Adakah berita terbaru tentang keadaanmu?” tanyaku. Dan dia menjawab, “Ya ... Pater, kemarin saya ke rumah sakit dan hasil ronsen menunjukkan kanker itu tiada lagi. Kami hidup Pater.”

Ekaristi pagi itu kami persembahkan sebagai syukur atas kesembuhan Veronika. Ketika Veronika kuminta tampil di altar, semua umat berdiri, dan tepukan tangan menyertainya. “Bersamamu, saya telah meminta kehidupan buatku dan buat anakku, dan Tuhan, Allah yang hidup telah memberikannya kepada kami. Terpujilah Tuhan dan terpujilah KehendakNya,” kata Veronika.

Lima bulan kemudian, Agustus 1996. Sebuah surat dengan alamat pengirim Veronika Harley dan keluarga buatku. Di dalamnya sebuah foto bayi mungil, di belakangnya tertulis, “Namanya Michael, karena Tuhan telah memenangkan kami.” Dan di lembaran lainnya sebuah puisi berjudul, “Dua sungai bertemu di rahimku” oleh Veronika Harley.

___________________________________________________________

“Dua Sungai Bertemu”

oleh: Veronika Harley

Hanya satu tubuh membawa dua makhluk yang sedang tumbuh / Dua sungai mengalir bertemu menjadi satu / Yang satu membawa satu harapan hidup yang menggembirakan / Yang lain membawa kedalaman keputusasaan yang penuh percekcokan / Pertumbuhan mereka karena berbagi dari sumber makanan yang sama / Selalu bertempur seperti kejahatan dan kebaikan.

Bagaimana hal ini mungkin terjadi pada seorang manusia? / Datang tanpa dinanti tak seorangpun melihatnya / Seorang bayi aman dalam kandungannya / Namun kenyamanan kini diganggu kanker yang ganas.

Seorang ibu terluka dan pelan-pelan terasa mulai ambruk / Hanya bisa menaruh keper-cayaannya kepada Yesus sang Cinta / Ini adalah jalan gelap yang teramat panjang yg harus dilewatinya./ Tetapi Maria, Bunda yg tak bercela tak akan membiarkannya binasa. / Dia akan berjaga bersama di sam-pingnya / Dan mencumbunya dengan mesra seperti ombak pada pasir pantai.

Karena itu, jangan takut dan bertahanlah kokoh hingga penghabisan / Sebab engkau memiliki wadas yang kokoh / Ketika Yesus sang Cinta menjadi sahabatmu.

___________________________________________________________

Bukan Cuma Doa, tetapi Gaya Hidup yang Berfokus pada Pelaksanaan Kehendak Allah

Veronika dalam kesaksiannya pada kesempatan misa syukur itu mengungkapkan puji dan syukurnya kepada Tuhan, “... Terpujilah Tuhan dan terpujilah KehendakNya,” yang hemat saya menjadi juga pesan tunggal dari penggalan teks Injil yang kita renungkan kini. Mungkin saja secara sederhana, ketika membaca ungkapan seperti “meminta, mencari dan mengetok” kita langsung bisa mengatakan bahwa teks ini bicara tentang doa. Tapi kalau kita merefleksikan lebih dalam, ungkapan – ungkapan ini bukan hanya tentang doa, tetapi tentang suatu gaya hidup yang berpusatkan pada Kehendak Allah dan pelaksanaannya.

Membaca secara cermat teks Injil Matius 7: 7-11 ini, kita bisa merefleksikan empat hal penting: (1) Mencari dengan suatu kepastian untuk menemukan, (2) Jawaban dan Tanggapan Allah sedang terjadi, (3) Bapa sebagai Gambaran Allah menyediakan kebutuhan bagi anak-anakNya tanpa merugikan mereka, dan (4) Mengasihi sebagai Gaya Hidup Komunitas Murid Yesus. Kita akan melihatnya satu per satu dalam usaha kita untuk memahami penggalan teks Injil di atas, dengan harapan untuk menemukan basis bagi praksis kehidupan komunitas kita.

1. Pencarian yang Pasti

Berbincang-bincang ttg Kehendak Allah, mau tak mau kita harus membedah asal kata Kehendak.
Kata Yunani “thelema” mengandung arti sebagai berikut: “kehendak, mak-sud, intensi, keinginan dan juga aturan”

Dalam PB selalu diguna-kan dalam kaitan dengan: Allah, Kristus, setan, mereka yang memerintah, dan juga manusia pada umumnya.

Ketiga ungkapan yang dipakai di sini sungguh melukiskan suatu keadaan kekurangan dan keinginan untuk memenuhinya. Ada nuansa mencari dengan kepastian akan memperoleh sukses. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Ketika menemukan ungkapan yang berpasangan seperti ini, dalam tradisi Kitab Suci biasanya berbicara tentang kelimpahan. Artinya, ketiga ungkapan tadi sesungguhnya menunjukkan pencarian akan Allah, kebijaksanaan, keadil-an, kehendak ilahi dan kehadirannya, dll; baik yang diungkapkan secara khusus melalui doa maupun dalam pencaharian sehari-hari.

Jadi kepada komunitas para muridNya, Yesus menegaskan bahwa mencari Allah, mencari kebijaksanaan, keadilan, kebenaran dan kehendak Allah, bukan cuma dalam doa tetapi harus menjadi pencarian yang terus-menerus dalam hidup, dalam perjuangan keseharian. Artinya, kehidupan komunitas murid Yesus mau tidak mau mesti berpusat dan memiliki fokus pada Kerajaan Allah dan keadilan yang diwartakanNya. Itulah fokus pencarian komunitas murid dan jika itulah pusatnya, maka ada jaminan bahwa akan memperolehnya.

2. Jawaban Allah tengah Berlangsung

Menekankan kembali pernyataan pertama di atas, ketiga ungkapan juga menampilkan juga nuansa “tengah terjadi” atau “sedang berlangsung”. Maksudnya jelas, bahwa yang tengah terjadi sekarang, bukan saja soal fokus komunitas kepada pencarian kehendak Allah, tetapi juga menunjukkan bahwa jawaban dan tanggapan dari pihak Allah sedang terjadi, tengah berlangsung. “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”

Penegasan seperti ini sebenarnya menguatkan dan memberikan keyakinan yang kokoh bagi para murid sebagai anggota komunitas murid Yesus, bahwa permintaan yang sulit sekalipun, bila dipusatkan pada pelaksanaan kehendak Allah, biar dalam keadaan yang sukar dan kelihatan mustahil, tidak mungkin akan menemukan kekecewaan. Allah pasti memberikan dan menjawab pencarian itu. Nah, satu-satunya yang menjadi tolok ukur di sini adalah kehendak Allah, artinya apa yang dicari oleh anggota komunitas baik pribadi maupun sebagai komunitas mesti ditempatkan dalam pelaksanaan kehendak Allah.

3. Bapa : Gambaran Allah yang Tahu akan Kebutuhan Manusiawi Anak-AnakNya

Apa jaminan dari penegasan bahwa Allah pasti memenuhi pencarian para murid Yesus? Nah ... di sini ditampilkan contoh dari dunia rumah tangga tentang bapa keluarga yang bertanggung jawab, yang pasti memenuhi kewajibannya sebagai bapa dalam memberi nafkah bagi keluarganya. Seorang bapa yang baik di dunia ini pasti tak akan merugikan anaknya ketika mereka meminta hal mendasar bagi hidupnya.

Sikap manusiawi seorang bapa di dunia ini diambil untuk menampilkan sebuah gambaran tentang sikap Bapa Sorgawi ketika berhadapan dengan permintaan dari anak-anakNya yang tidak lain adalah murid Yesus, sisa kecil di dalam dunia yang tetap fokus pada Allah dan kehendakNya. Kalau bapa yang dikenal di dunia ini tak merugikan anaknya, apalagi Allah sebagai Bapa Surgawi yang tahu dengan baik kebutuhan anak-anakNya yang senantiasa berdoa kepadaNya dan mencari kehendakNya. Bapa Sorgawi pasti memberikan pemberian yang baik.

Pemberian baik macam apa saja yang dijamin pemenuhannya oleh Allah bagi hidup para murid Yesus? Walaupun tidak dijelaskan secara detail, pemberian dimaksud melingkupi: segala sesuatu yang dibutuhkan untuk hidup sebagai Murid Yesus, dan Allah juga menjamin komunitas murid Yesus yang melaksanakan kehendakNya sebagai suatu gaya hidup khas murid Yesus.

4. Mengasihi : Gaya Hidup Komunitas Murid Yesus

Gaya macam manakah gaya hidup komunitas murid Yesus itu? Jawabannya dimunculkan sebagai kesimpulan, rangkuman segala ajaran Yesus sebelumnya, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Inilah aturan main yang harus mewarnai gaya hidup murid Yesus,

Untuk apa aturan main seperti ini dijalankan oleh setiap murid Yesus? Maksudnya jelas, agar para murid Yesus bisa secara effektif mempengaruhi mereka yang belum menjadi murid Yesus untuk menemukan Allah, untuk menemukan kehendakNya dan boleh hidup sesuai dengan kehendak Allah itu. Dan gaya hidup yang demikian tidak lain adalah mengasihi tanpa diskriminasi siapapun di dunia ini, hal mana diungkapkan dalam pernyataan, “Itulah seluruh isi hukum Taurat dan kitab para nabi.” Pernyataan seperti ini mengingatkan kita akan sabdanya ketika menjawab pertanyaan tentang “manakah perintah pertama dan utama dalam seluruh kitab Taurat?” (lihat Mat 22:36-37).

Menemukan Allah dalam Doa dan Karya

Merenungkan tentang bagaimana sebuah komunitas beriman merumuskan fokus kehidupan komunitasnya, kita sesungguhnya sementara merefleksikan tentang prinsip yang menjadi tuntunan untuk membantu komunitas berjalan menuju tujuannya. Usaha kita ke arah sana telah dibantu oleh pemahaman terhadap teks Injil Matius 7:7-12 di atas.

Dalam refleksi itu, kita memahami bahwa fokus utama komunitas sebagai dimaksudkan oleh Yesus mesti ditempatkan dalam bingkai Kehendak Allah dan pelaksanaannya. Penggalan teks Injil Matius ini memang bermaksud untuk mengingatkan kita, bahwa dalam sebuah kebersamaan atau dalam komunitas yang didasarkan atas iman akan Kristus, hal yang harus mengarahkan hidup dan cara berada kita tidak lain adalah usaha untuk menemukan Allah dan KehendakNya. Inilah fokus utama hidup komunitas. Inilah arah dasar yang menuntun kita kepada kepenuhan hidup sebagai Murid Yesus.

Dan arah dan visi dasar dijabarkan dalam dua strategi praksis hidup berkomunitas. Apakah strategi yang dimaksudkan itu? Kita sementara berhadapan dengan dua sisi dari mata uang yang sama, yang sama pentingnya dan satu tidak bisa dibiarkan tanpa yang lain. Dan motto “Ora et Labora” kembali memperdengarkan gaungnya di sini. Tetapi, kita tidak berbicara tentang doa sebagai doa saja, atau membicarakan karya dan kegiatan komunitas sebagai sebuah karya biasa. Kita sedang melihatnya sebagai dua upaya yang saling berhubungan erat sebagai cara kita untuk menemukan Allah dan kehendakNya.

Karena itu, dua praksis ini akan selalu disandingkan bersama. Dan bagaimana para anggota komunitas bisa menjadikan komunitasnya sebagai suatu komunitas yang berdoa dan berkarya untuk menemukan Allah dan kehendakNya, kita bisa melihatnya dalam tiga praksis berikut: (1) Anggota komunitas sadar bahwa Allah ada dan tengah berkarya dalam komunitas, (2) Ada jaminan tersedianya kebutuhan-kebutuhan mendasar bagi semua anggota dalam komunitas, dan (3) Komunitas yang solider ke dalam untuk menjangkau yang lain.

1. Sadar bahwa Allah sedang berkarya

Bagi seorang Kristen, hidup sesungguhnya tak bisa dipisahkan dari satu kesadaran dasar ini, bahwa “Allah ada dan Allah sedang berkarya” dalam dirinya dan dalam komunitasnya. Ini suatu konsekwensi dari kenyataan bahwa orang Kristen menerima hidup Allah Tritunggal dalam dirinya semenjak ia menerima sakramen Baptis.
Allah ada dan tengah bekerja “di sini dan sekarang” merupakan satu kepastian, kendati kita tidak bisa membuk-tikan secara fisik. Makanya, ketika Yesus mengatakan, “mintalah, kamu akan menerimanya”, “carilah, kamu akan mendapatkannya”, serta “ketoklah, maka pintu akan terbuka bagimu”, merupakan suatu kepastian karena pemenuhan atas permintaan, pencaharian dijamin oleh kehadiran dan karya Allah. Ketika seorang hidup dalam hadirat Allah, berada dan berkarya dalam kehadiran Allah, ia memperoleh kepastian bahwa apa yang dicarinya dalam hidup, dijamin pasti diperoleh. Apa yang kita katakan sekarang sudah terbukti dalam hidup dan pribadi para orang kudus dalam Gereja. Orang kudus adalah orang yang hidup dalam kehadiran Allah, orang yang sepanjang hidupnya berhasil menyadari secara terus menerus bahwa Allah memang ada, bahwa Allah berkarya.

Kepastian bahwa Allah menjamin apa yang kita cari, ini bukan hanya tentang mencari dan meminta dalam doa, tetapi dalam keseharian hidup seseorang, dalam perjuangan kehidupannya, dalam suka dan duka keluarganya. Berdoa kepada Allah dan berkarya di berbagai bidang kehidupan dengan kesadaran bahwa Allah ada bersamanya, akan mengubah cara orang melihat kenyataan hidupnya. Kesadaran itu akan mengubah cara orang bertindak. Dan mengubah cara orang melihat dirinya dan komunitasnya. Jika demikian, kita bukan lagi pelaku tunggal dalam setiap doa dan pekerjaan, tetapi kita mengambil bahagian dalam doa dan karya Tuhan sendiri. Ketika kita berdoa, Allah memampukan kita untuk melakukannya, dan ketika kita berkarya, Allah berkarya dalam diri kita.

Veronika Harley dan keluarganya dalam ceritera di atas sebenarnya telah sampai pada kesadaran yang demikian. Kesadaran itu mengubahnya, mengubah keluarganya, untuk menerima apapun yang terjadi dalam kehidupan mereka sebagai usaha menerima kehendak Allah bagi mereka. Dan dalam kasus Veronika, tak ada pasrah pada nasib, tetapi ia percaya bahwa Yesuslah wadas kokoh yang membuatnya mampu bertahan hingga penghabisan.

Nah, ketika sebuah komunitas dan para anggotanya memiliki fokus pada kehendak Allah, maka hidup secara sadar akan kehadiran Allah adalah upaya pertama untuk membuktikan fokus itu. Dan akibat lainnya adalah bahwa kita akan mencintai doa, mencintai perkerjaan kita, karena lewat keduanya kita yakin bertemu dengan Allah yang memberi jaminan atas permintaan dan pencarian kita. Maka rupanya tepat kata seorang guru doa, Richard Foster, “doa yang nyata bukan datang ketika anda melakukannya dengan kertakan gigi atau teriakan kepada Allah, tetapi ketika anda jatuh cinta kepada Allah”.

“Jatuh cinta kepada Allah dalam doa. Jatuh cinta kepada Allah dalam pekerjaan” itulah buah kesadaran bahwa Allah hadir dan sedang berkarya. Jadi jatuh cinta dalam doa, jatuh cinta dengan pekerjaan dan profesi kita dan menyadari bahwa kita mengambil bahagian dalam karya Allah adalah tanggapan nyata kita dan kesaksian kita bahwa Allah sungguh ada dan Allah sungguh tengah bekerja dalam diri pribadi dan komunitas kita.

2. Terpenuhinya kebutuhan dasar manusiawi anggota

Bila apa yang kita cari, apa yang kita minta kepada Allah mendapat jaminan pemenuhannya, maka hal berikutnya yang harus menjadi perhatian komunitas adalah terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan manusiawi yang paling dasariah. Di dalam suatu komunitas hidup bersama, mesti ada jaminan bahwa hal-hal paling mendasar bagi kebutuhan para anggotanya dipenuhi.

Kalau kita perhatikan dalam komunitas-komunitas religius, kenyataan seperti ini memang terjadi. Ada praktek yang sedang berlangsung dalam berbagai komunitas religius, bahwa kekurangan dalam hal kebutuhan dasar seseorang dan suatu komunitas dipenuhi oleh yang lain, oleh komunitas lainnya. Solider dengan yang tidak punya diungkapkan dengan membantu mereka, memenuhi kebutuhan mereka. Inilah yang terjadi dalam komunitas pertama para murid Yesus di Yerusalem.

Kebutuhan dasar macam apa saja yang saya maksudkan di sini? Kita kenal ungkapan klasik di tempat kita : “Sandang, Pangan dan Papan”, kebutuhan akan makanan harian, kebutuhan akan pakaian dan kebutuhan akan rumah tempat orang berdiam.

Bila kita hidup dalam kesadaran bahwa Allah ada dan sedang berkarya, kekurangan-kekurangan dalam kebutuhan dasar seperti ini tidak bisa lagi dibiarkan tanpa ditangani. Anggota komunitas harus terlibat untuk saling mengusahakan jalan keluar bagi tersedianya kebutuhan-kebutuhan dasariah ini. Bisa terjadi dengan membantunya langsung, bisa dengan memberinya pinjaman, bisa dengan menciptakan sistem di mana kebutuhan-kebutuhan ini ditangani bersama dalam komunitas.

Nah, kehadiran Allah memang berkaitan dengan hadirnya keadilan, hadirnya keseimbangan, hilangnya kemelaratan, yang dalam istilah yang lebih umum kita katakan sebagai keselamatan. Allah ada, ada keselamatan. Kalau kita sadar Allah ada, maka kita mesti peduli dengan keselamatan sesama kita. Artinya, hak hidup seseorang dalam komunitas tak disangkal, dan mereka secara bersama-sama menghidupkan solidaritas, untuk berbagi dalam banyak hal, terutama dalam kebutuhan-kebutuhan manusiawi yang paling mendasar, makanan, pakaian, rumah.

3. Terlibat untuk suatu dunia yang lebih baik

Hal ketiga adalah tentang misi keluar setiap komunitas, perutusan untuk pergi mendapatkan mereka yang lain, yang bukan termasuk anggota komunitas, yang bukan orang dalam, yang bukan penganut Kristus. Singkatnya tentang perutusan anggota komunitas ke tengah dunia, ke tengah masyarakat.

Kekristenan tak pernah ada untuk dirinya sendiri. Ia ada untuk dunia, untuk keselamatan dunia. Itulah misi Yesus, dan misi yang diserahkanNya kepada para muridNya. Mungkin baik mengingat kata-kata yang dipakaiNya ketika mengutus mereka dalam Injil Matius, 28:19, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.” Perintah ini memang lebih sering dihubungkan dengan mandat misi, untuk mengundang orang menjadi penganut Kristus, tetapi ada hal yang berkaitan dengan apa yang kita tekankan di sini. “Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”, berarti juga pergi kepada saudara-saudari yang bukan anggota komunitasmu, dan usahakanlah agar kehadiran dan karya Allah Tritunggal itu terasa juga di sana.

Bukankah ini bicara tentang tugas dan keterlibatan kita di tengah dunia dengan semangat Kristen? Seorang Kristen, tidak bisa lagi menjadi penganut dengan KTP beragama Kristen, tetapi harus membawa kemanapun ia berada, kesadaran bahwa Allah juga ada di sana dan tengah berarya melalui dia di tempat itu. Kita tak bisa lagi menjadi orang Kristen yang tanpa identitas. Identitas kita yakni identitas kasih mesti dibawa ke semua bidang hidup.

Cara kita melayani dalam kasih, menjangkau orang lain dengan kasih yang tulus, harus menjadi suatu gaya hidup. Dengan cara inilah kita tengah menjadikan semua sebagai murid Kristus, para pengasih kehidupan, orang-orang yang peduli dengan sesamanya dan bersedia berbagi dalam berbagai kebutuhan dasar manusiawi. Kalau hal ini bisa terjadi, maka keadaan cukup sandang, keadaan cukup pangan dan keadaan cukup papan bisa dinikmati oleh semua di bawah kolong langit ini.

Nah, membuat ini menjadi kenyataan adalah misi murid Yesus, misi setiap anggota komunitas. Inilah salah satu cara untuk mengatakan kepada dunia bahwa Allah kita ada dan Allah sedang berkarya.
Copyright © 10 Oktober 2008 by Ansel Meo SVD

Selasa, November 04, 2008

ADIL DAN BENAR (1) : KOREKSI PERSAUDARAAN DALAM KOMUNITAS


“Berdasarkan Belaskasihan, Bukan Hukuman”


Teks Matius 7: 1-6

1."Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi
2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."
6 "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu."


Pengantar

Tema tentang bagaimana memberi koreksi atau memperbaiki kesalahan seorang anggota dalam komunitas, yang akan kita bicarakan di sini sebenarnya merupakan perso-alan yang kerap dihadapi oleh ko-munitas beriman, baik komunitas re-ligius maupun ko-munitas - komuni-tas umat basis dalam Gereja dan dalam masyarakat.

Hal ini berkaitan juga dengan hubungan antar anggota komunitas baik dengan sesama anggota maupun dan terutama dalam kaitannya dengan pimpinan. Bahkan sangat mungkin, persoalan seperti ini berubah menjadi krisis yang berkepanjangan dan merusakan keharmonisan hubungan di dalam komunitas, dan berakibat lanjut dalam kehancuran karya dan misi komunitas itu dalam masyarakat.

Karena itu, kita akan mencoba melihat pokok tentang “koreksi persaudaraan” dalam komunitas – komunitas kita dan menggunakan cara melihat yang Yesus maksudkan ketika Dia mengajarkan para muridNya. Hemat saya, teks Injil Matius yang kita ambil untuk meneropong persoalan ini, memiliki banyak nilai yang sangat kaya untuk kita simak bagi kehidupan komunitas-komunitas kita.

Pimpinan yang “sulit”

Suster Rita, baru tiga tahun mengikrarkan kaul – kaul biara dalam biaranya. Usai kaul dia ditempatkan di suatu komunitas di desa di wilayah pedalaman Italia. Rita sendiri demi cita-citanya meninggalkan negeri-nya untuk bergabung dalam for-masi dasar biaranya di Italia.

Sejak penempatan pertamanya, Rita bekerja untuk membantu anak-anak bermasalah yang dititipkan pemerintah wilayah itu kepada biara mereka. Dia juga membantu seorang suster lainnya di Taman Kanak-Kanak milik biaranya di tempat itu.

Suatu saat, ketika saya menelponnya, Sr. Rita menceritakan kepada saya peristiwa yang baru dialaminya.

“Saya harap Pater punya waktu untuk mendengarkan saya. Saya butuhkan bantuan Pater untuk kesulitan saya,” katanya. Saya pun bertanya, “Ada apa suster?” Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan pembicaraannya. “Saya tak tahu apakah saya perlu bertindak atau harus diam saja, atas nama ‘kaul ketaatan’ yang saya ikrarkan. Tapi saya kira dia perlu diajarkan tentang bagaimana memperlakukan saudari-saudarinya dalam komunitas. Ini tentang perlakuan pimpinan komunitasku yang keterlaluan terhadap saya, Pater,” Rita memulai kisahnya.

“Coba Rita jelaskan soalnya lebih terperinci,” saya memberanikannya untuk bercerita lanjut.
“Sepanjang hari ini, kami saling berteriak saja, Pater,” lanjutnya. “Dia bilang saya tak buat apa-apa selama ini, hanya pekerja yang kebetulan sangat dekat dengannya, itulah yang bekerja sangat keras di rumah ini. Padahal, itu tak benar. Bermula dari masalah sepatu anak, saya dicapnya sebagai orang yang tak tahu bekerja, santai dan berbagai litania lainnya ... Tapi saya tak akan pergi sebelum saya ajarkan dia bahwa dia salah menilaiku. Saya takkan pergi sebagaimana dua suster sebelumnya yang pergi tanpa pamit karena tak tahan terhadap perlakuannya. Saya akan pergi, tetapi setelah dia tahu bahwa Rita lain dari mereka. Rita tak tega dihina seperti orang yang tak punya martabat. Di rumah, bapak dan mama saya tak pernah memperlakukan saya demikian.” Saya datang karena Tuhan yang memanggilku, dan saya tak akan pergi karena seorang pimpinan yang punya kepribadian sulit seperti dia,” Rita bercerita sambil menahan tangis.

“Yang membuatku tambah marah, dia selalu meneriakiku, ‘Mana ketaatanmu, Rita?’ Engkau baru kaul sementara, engkau harus ikut apa yang saya perintahkan! Kalau tidak, kamu akan tahu bahwa saya akan panggil pimpinan umum untuk mengurus sikapmu.’ ‘Che obedienza! Mai obligo me stesso ad una superiora bruta come lei,’ kisah Rita bercampur bahasa Italia, yang artinya, “Ketaatan macam apa? Saya tak akan pernah mewajibkan diriku untuk taat kepada seorang pimpinan jahat seperti dia”)

Kurasakan kemarahan yang tak tertahankan dalam ungkapannya ini. “Tetapi … Pater, bagaimana saya harus menghadapinya?” tanyanya lanjut.


“Jangan kamu menghakimi! Atau “Janganlah kamu mempermainkan Allah dengan menghakimi saudara dan saudarimu!”


Kalau kita lihat dari asal-usul katanya, kata “menghakimi” yang digunakan di sini adalah terjemahan kata kerja (Yun:) Κρίνώ (krinό) – bahasa Inggrisnya crisis – dan kita terjemahkan sebagai “krisis” atau lebih tepatnya “kritik”.

Kata kerja Yunani ini memiliki banyak arti, antara lain:
(1) memisahkan atau membedakan,
(2) menilai memikirkan, memper-timbangkan
(3) memutuskan, mengajukan,
(4) membawa ke depan pengadilan, mempersoalkan, memperteng-karkan,
(5) menghukum, menghakimi
(6) dan juga memberikan penilaian yang tak menyenangkan tentang sesuatu, mengeritik dan menemukan kesalahan seseorang dengan sesuatu ..

Rupanya soal dan kebiasaan menghakimi seperti dalam cerita Suster Rita barusan, bukan hanya terjadi di dalam komunitas mereka. Soal yang umum terjadi di manapun dan pada waktu kapanpun. Bisa terjadi dalam sebuah komunitas religius, bisa juga dalam hubungan antara saudara dan saudari di sebuah keluarga, dan bisa juga dalam sebuah komunitas umat basis. Satu persoal-an yang juga bisa dibilang lintas zaman dan lintas tempat.

Yesus dalam ajaranNya dalam penggalan Injil Matius tentang “Hal Menghakimi” (kita baca dalam Matius 7:1-6) memulai peringatan kepada para muridNya dengan ungkapan “Jangan kamu menghakimi!”.

Yesus menggunakan kata “menghakimi”, yang dalam pemakaian sehari-hari memiliki arti yang bervariasi dan luas, sebagaimana terlihat dalam penjelasan arti kata (etimologi) di atas.

Apakah memang demikian maksud Yesus? Ataukah ada penjelasan lain yang lebih pas untuk kita lihat? Rupanya kita mesti lihat terjemahan yang lebih persis di sini. Kita bisa dibantu untuk melihatnya lebih baik dengan membaca penggalan Injil yang sama, ketika Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaanNya, kamu yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas duabelas takhta untuk menghakimi keduabelas suku Israel.”(Mat 19:28)
Jadi secara persis peringatan Yesus ini berhubungan dengan penghakiman dalam kerajaan Allah, suatu penghakiman yang akan terjadi kelak. Maksudnya jelas yakni : Para murid tidak boleh merampas kuasa dan peranan Allah dalam menghakimi seseorang dan tidak boleh memutuskan nasib seseorang.

Tindakan untuk “menghilangkan” hak seseorang dari keanggotaan dalam komunitas dilarang, bukan hanya karena berlawanan dengan belas kasihan dan kasih sayang, tetapi yang jauh lebih penting ialah bahwa hanya Allah yang melihat segalanya dan mengetahui segalanya-lah yang boleh melakukan peranan untuk menghakimi pada akhir zaman.

Untuk menggarisbawahi permintaan Yesus agar tak seorang pun yang merampas serta mempermainkan Allah dengan menghakimi saudara dan sudarinya, baiklah sekarang kita melihat beberapa penekanan penting dari peringatan dan ajaran Yesus dalam penggalan Injil ini.

1. Hanya Allah saja yang boleh menghakimi:

Penekanan bahwa hanya Allah sajalah yang boleh menghakimi seseorang dalam sebuah komunitas, sebenarnya merupakan penegasan tunggal tentang larangan untuk melakukan setiap bentuk penghakiman. Di hadapan Allah, semua anggota komunitas memiliki status sama: anak-anak Allah. Setiap orang yang menyebut dirinya Murid Yesus menyandang predikat yang sama, anak-anak Kerajaan, yang akan dinilai Allah sendiri pada penghakiman terakhir.

Tidak cuma itu saja. Allah yang punya hak menghakimi itu akan menghakimi setiap orang bukan dengan hukuman, tetapi atas dasar belas kasih dan kasih sayang. Jika Allah yang punya hak tunggal saja sedemikian mengasihi dan berbelaskasihan kepada anak-anakNya, mengapa kita anak-anakNya mesti menghakimi orang yang bersalah?

Nah jika seorang bisa menahan diri dari kebiasaan merampas hak Allah untuk menghakimi sesamanya, berarti boleh jadi ada jaminan pasti bahwa dia tidak akan dihukum ketika Allah menghakimi pada akhir zaman.

2. Prinsip dasar keadilan - Mencabut hak seseorang artinya menghilangkan hakmu sendiri:

Selain menekankan tentang hanya Allah saja yang bisa menghakimi, Yesus menegaskan juga tentang apa yang merupakan prinsip dasar keadilan. Apakah prinsip dasar keadilan itu?

“Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Jelas kiranya, bahwa menghilangkan atau mencabut kesempatan seseorang untuk mendapatkan belaskasih sama artinya dengan menghilang kesempatan bagi dirinya sendiri untuk memperoleh belaskasihan yang sama. Itulah sebabnya, komunitas murid Yesus diperingatkan Yesus untuk tidak pernah membuat keputusan bagi anggota komunitas, yang sedianya baru terjadi pada akhir zaman.

Dengan demikian setiap anggota komunitas disadarkan untuk kenal dirinya sebagai suatu komunitas yang tidak sempurna, komunitas yang sedang dalam perjalanan menuju kehidupan (lihat Mat. 7: 13-14). Identitas komunitas murid Yesus adalah sebuah komunitas yang bertumbuh dalam ketidak sempurnaan (lihat Mat. 5: 48), sebuah komunitas yang bertumbuh dalam kebenaran (lihat Mat. 5: 20), akan terus berlanjut hingga tujuan akhir komunitas itu. Komunitas yang demikian menghidupkan prinsip keadilan dalam komunitasnya.

Persis inilah komunitas di mana setiap anggotanya mempercayakan dirinya kepada belas kasihan Allah.

3. Peringatan tentang kecendrungan dasariah manusia : ‘tak melihat kekurangan sendiri tetapi mudah sekali melihat kesalahan orang lain’:

Hal ketiga adalah sebuah peringatan bagi para murid untuk melihat diri sendiri lebih dulu sebelum menilai orang lain; hal mana merujuk lagi pada kesadaran bahwa manusia pada dasarnya memiliki visi yang tak sempurna.

Lukisan yang dipakai agak berlebihan di sini, tetapi tujuannya jelas, para murid mesti bertolak dari diri sendiri. “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”

Menggunakan dua benda dengan ukuran yang berbanding terbalik : selumbar dan balok, memang mau menekankan ketidakmampuan untuk melihat kesalahan dan kekurangan sendiri dan sebaliknya bisa melihat kekurangan yang paling kecil dari orang lain. Keinginan atau pretensi untuk melihat kekurangan orang lain jadi menggelikan di sini justru karena ketakmampuan untuk mengenal diri dan kekurangan sendiri.

Hal seperti ini tidak bisa terjadi terus menerus dalam sebuah komunitas, di mana para anggotanya menamakan diri mereka, saudara dan saudari, anak-anak dari Allah yang sama.

4. Mengoreksi anggota lain dalam komunitas harus dimulai dan mengikuti koreksi diri sendiri:

Lalu, bagaimana berhadapan dengan kesalahan yang dibuat anggota komunitas? Haruskah dibiarkan, ataukah mesti ditangani? Dan dengan cara apa?

Nah, kita berhadapan dengan soal bagaimana memberikan koreksi atau mengoreksi seseorang secara benar. Yesus mengedepankan prinsip dasar tindakan kemuridan; bahwa anggota-anggota komunitas tidak dapat menghukum yang lain. Yesus memberikan alternatif praktis di sini. Apa itu? Pertama sekali, kepada orang yang biasa lihat kekurangan orang tanpa sadar akan kekurangan sendiri disebutnya sebagai “munafik”. Setelah itu, Yesus menunjukkan cara koreksi yang benar: Bahwa koreksi kepada yang lain harus dimulai dan harus mengikuti koreksi terhadap diri sendiri.

Untuk Yesus, syarat pertama koreksi persaudaraan – mesti dimulai dengan - mengeluarkan balok dari matamu, - (mengenal diri sendiri), meneliti diri sendiri (lihat Sirakh 18: 20), barulah engkau akan melihat dengan jelas. Bila ini terjadi maka sekarang, mengeluarkan selumbar itu dari mata orang lain atau saudaramu jadi mungkin.

Koreksi persaudaraan yang mengikuti tindakan mengkoreksi diri sendiri inilah tanda kehadiran Kerajaan Allah di dalam komunitas dan kelanjutan Kerajaan itu di masa yang akan datang. Karena itu di sini Yesus sebenarnya mau menyatakan bahwa, mengoreksi anggota lain dalam komunitas bisa dibuat ketika seseorang sadar akan keterbatasannya sendiri dan membiarkan diri dibentuk oleh Allah dan KerajaanNya serta berbelas kasihan dan memberikan hidupnya bagi yang lain.

Komunitas para murid yang demikian saling memperhatikan satu sama lain dalam ziarah mereka untuk mengambil bahagian dalam kepenuhan kerajaan Allah.

5. Koreksi tidak bisa dipaksakan kepada orang yang tak akan mau menerimanya:

Bagaimana jadinya kalau orang yang dikoreksi tak mau menerima perbaikan saudaranya? Hal kelima dalam pengajaran Yesus di sini bicara tentang tak adanya jaminan sama sekali bahwa efek dari koreksi yang diberikan bisa menghasilkan buah. Jelaslah bahwa koreksi persaudaraan itu tak bisa dipaksakan kepada mereka yang tidak mau menerimanya. Perlu kepekaan ketika mesti berhadapan dengan mereka yang kurang menerima perbaikan orang lain.

Tetapi penting sekali disadari bahwa koreksi persaudaraan yang berguna untuk menghadirkan Kerajaan Allah itu sama nilainya dengan “yang kudus”, yang dalam Imamat 2: 3 dihubungkan dengan persembahan kepada Allah. Nah, orang yang tak mau menerima koreksi persaudaraan atau tak mau sama sekali dibentuk oleh Allah untuk kepentingan kerajaanNya, orang itu menggolongkan dirinya sebagai yang tidak taat, yang dalam perikope ini disejajarkan sebagai “anjing dan babi”, dua simbol binatang yang tak pernah bisa dikoreksi secara baik.

Kepada orang dengan karakter seperti ini tak ada gunanya sedikitpun memberikan koreksi persaudaraan, karena apa yang diberikan akan ditolak bahkan diinjak-injak. Bahkan ketika menghadapi situasi seperti itu, orang yang menawarkanpun, tak diisinkan untuk menghukum orang itu ke penghukuman akhir.

Mempraktekkan - “correctio fraterna – koreksi persaudaraan” dalam komunitas

Kelima hal yang telah coba kita dalami dari penggalan singkat teks Injil Matius ini, jika disimpulkan sebenarnya menawarkan beberapa hal bagi praksis kehidupan komunitas murid Yesus, entah itu komunitas religius, komunitas-komunitas kategorial ataupun komunitas umat basis. Dan hemat saya ada 3 hal yang bisa didalami untuk praksis hidup komunitas.

1. Komunitas dan Kesadaran akan Peran Allah yang Mengasihi dan Penuh Belaskasih:

Ketika saya mencoba menjawab pertanyaan suster Rita “Pater, apa yang harus saya perbuat?” saya sebenarnya bergulat dalam pikiran saya. Ada keinginan untuk mengatakan kepadanya, “Baik juga kalau suster buat sesuatu agar pimpinanmu jera dan bertobat, untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang!” Di sisi lain saya sadar bahwa menganjurkan jalan seperti itu, akan membuat si pemimpin komunitas merasa terluka, hal mana akan menyulitkan proses untuk membangun komunitas atas prinsip kebenaran dan keadilan, sebagaimana diminta Yesus. Dengan kata lain, sebuah pertanyaan penting diajukan di sini, “Jika komunitas itu adalah cerminan komunitas hidup Allah Tritunggal di atas bumi, bagaimana dengan upaya untuk menampilkan wajah Allah yang tidak menghukum, Allah yang mengasihi dan berbelas kasihan?”

Bila kita bertolak dari arti kata dasar yang digunakan untuk menjelaskan “belaskasihan”, kita sebenarnya sedang mengidentifikasikan komunitas kita dengan sifat “rahim” atau suatu kondisi rahim, untuk mengatakan bahwa dalam usaha komunitas menampilkan Allah yang berbelaskasih dan penuh kerahiman. Berhadapan dengan anggota yang bersalah, komunitas yang sadar akan Allah yang maharahim harus berusaha untuk menjadi rahim bagi seluruh anggotanya, suatu komunitas yang mencerminkan hubungan yang tak terpisahkan antara anak yang datang dari rahim yang sama. Orang Israel memang suka mengungkapkan pemahaman mereka tentang belas kasihan dan kerahiman Allah dengan kata “rhm” – rahamin, rahum, rahim.

Betapapun bersalah seorang anggota dalam komunitas, dia tetaplah buah dari rahim yang sama, yang bersamanya komunitas harus berusaha untuk lahir baru, hidup secara baru karena kekuatan cinta Allah yang mengasihi mereka semua. Kepada Sr. Rita, saya anjurkan ini, “Kalau memungkinkan, mintalah pembesar kalian (pemimpin yang lebih tinggi) datang. Kepadanya ceritakan versi kejadian menurut anda masing-masing bukan karena kebencianmu kepadanya tetapi karena cinta kasihmu kepada saudara yang bersalah kepadamu.”

Anjuran yang tak sulit untuk dibuatnya. Dua hari kemudian, Pimpinan Umum mereka datang mengunjungi mereka dan berbicara satu persatu dengan mereka. Ia mendengarkan, ia melihat bukti-bukti dan sebagai ibu bagi mereka menunjukkan kesalahan mereka berdua, dan kemungkinan-kemungkinan untuk membangun kembali hubungan yang baik dalam komunitas mereka.

“Terimakasih untuk doamu terutama, segalanya berjalan baik. Memang masih sulit untuk mengulurkan tangan, berdamai, tetapi sekarang tak terdengar lagi teriakan penghinaan itu, dan saya mulai menerimanya sebagai ‘seorang yang lain dari yang dulu’. Pelan tetapi pasti, terasa bahwa sebagai komunitas kami mulai sadar bahwa kami orang-orang yang tak sempurna. Doa kepada Allah yang berbelaskasih bisa merekatkan kembali persaudaraan kami yang rapuh,” tulis Sr. Rita dalam suratnya dua bulan kemudian.

Komunitas ini coba mempraktekkan koreksi persaudaraan dengan pertama-tama sadar akan kerapuhan para anggotanya dan dalam usaha mereka untuk menghidupkan komunitas sebagai rahim, telah menyertakan Allah lewat campur tangan atasan mereka untuk menyelesaikan persoalan mereka. Mereka memang menampilkan kesalahan saudaranya, tetapi dasarnya adalah karena mau mengasihi saudaranya, bukan karena membenci saudaranya. Mengapa? Karena di hadapan Allah yang melihat dan mengenal semuanya, mereka adalah anak-anaknya yang lahir dari rahim Allah yang mengasihi dan menghendaki mereka bertumbuh juga dalam ketidaksempurnaan mereka.

2. Komunitas yang Merefleksikan dan Mengoreksi Dirinya sendiri:

Aspek penting kedua, untuk mempraktekkan koreksi persaudaraan, mesti mulai dari kebiasaan untuk merefleksi dan mengoreksi diri sendiri. Yesus tidak hanya mengeritik tajam kebiasaan yang munafik komunitas-komunitas yang sudah ada waktu itu, tetapi Ia juga memberikan praktek alternatip kepada para muridNya. Memang prinsip dasar tetap sama, bahwa para murid tidak bisa menghakimi sesama mereka, karena hanya Allah yang bisa melakukan hal itu; tetapi mereka “diperbolehkan” hanya dengan satu syarat ini: “jika mereka terlebih dahulu mengoreksi dirinya sendiri.”

Mengapa demikian? Ketika saya menelpon dan coba mengungkit lagi persoalan Sr. Rita, bertanya, ‘Bagaimana mereka akhirnya bisa menyelesaikan masalahnya?’ suster muda yang telah kehilangan kedua orangtuanya, ketika dia masih dalam masa novisiatnya sebagai suster bercerita lanjut. “Mungkin itulah penyelenggaraan Tuhan, di hadapan kami berdua, Pemimpin umum kami bertanya kepada pimpinan komunitasku begini, ‘Apakah suster mau bahwa Rita juga berangkat seperti dua suster lain sebelumnya? Mengapa mereka pergi dengan sakit hati? Kalau ini peristiwa ketiga, yang dialami komunitas ini di bawah kepemimpinanmu, pernahkah suster merefleksikan bahwa mungkin persoalannya ada pada suster, dan bukan pada anggota?’ Jadi, suster Pemimpin Umum tidak percaya saja apa yang dikatakan tentang saya, tetapi memintanya merefleksikan dirinya, gaya kepemimpinannya dan hubungan kami dalam komunitas.”

Pimpinan kongregasi suster dalam kisah ini menyinggung aspek penting dalam memberikan koreksi bagi anggota komunitas, yakni memulainya dengan menilai diri – mengoreksi diri. Yesus juga meminta para muridnya secara sangat jelas, “Keluarkanlah dahulu, balok dari matamu pertama-tama, barulah setelah itu mudah bagimu melihat selumbar di mata saudaramu.” Kebiasaan merefleksikan diri sendiri ini akan membuat orang sadar akan siapa dirinya, dan tidak mudah membicarakan kesalahan orang lain.

Dalam diri Pimpinan Umum, kita melihat juga penting peran mediator, perantara, atau penghubung yang bisa menyatukan kedua pihak. Jadi seringkali perlu juga ada ‘pihak ketiga’ untuk terlibat dalam proses menyampaikan koreksi persaudaraan. Bila dalam sebuah kongregasi peran seperti ini bisa diambil oleh pimpinan yang lebih tinggi, seorang pembimbing spiritual, di komunitas basis atau keluarga bisa diminta bantuan orang lain yang mampu untuk itu. Yang terpenting ialah bahwa orang yang bersangkutan diterima oleh kedua pihak yang bermasalah.

3. Komunitas yang tidak Mengucilkan dan Menghukum Anggota-anggotanya:

Hal ketiga dalam upaya komunitas mempraktekkan koreksi persaudaraan adalah upaya maksimal untuk menjadi komunitas yang merangkul anggota dan tidak mengucilkan anggota, terutama ketika ada yang terlibat dalam masalah dengan komunitas.

Mungkin kita tidak boleh menutup mata pada praktek –praktek yang pernah terjadi pada berbagai komunitas, terutama komunitas religius, misalnya. Ada yang biasa memindahkan anggota yang terlibat dalam konflik, ke komunitas lain, ada yang atas nama ketaatan diharuskan menerima keadaan dan akibatnya orang hidup dalam tekanan, ada pula yang ‘dipromosikan’ untuk tugas belajar dan lain sebagainya. Jalan keluar yang masuk akal, tetapi jika kedua pihak tidak pernah duduk bersama dan menyelesaikannya masalah mereka baik sendiri maupun dengan bantuan pihak lain, maka kita sebenarnya tengah membiarkan suatu penyakit bertumbuh dan berjangkit dalam komunitas dimaksud atau komunitas baru lainnya.

Mengucilkan anggota yang terlibat dalam kesalahan, tanpa mendengarkan dan berbicara dengannya, menciptakan luka serius dalam diri orang bersangkutan dan dalam komunitasnya. Betapapun besar kesalahan seseorang, dalam cara pandang kristiani, dia pasti memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesalahannya, asal baginya ada ruang dan kesempatan untuk melakukan perbaikan dimaksud. Allah yang tidak menghukum, Allah yang tidak mengucilkan seperti nampak dalam diri Yesus Kristus, mengharuskan kita umatNya untuk tidak pernah mengucilkan seorangpun dari komunitas dan keluarga kita.

Panggilan para murid Yesus dan komunitas di mana mereka berada adalah untuk mengasihi dengan tulus dan penuh kerahiman, seperti sabdaNya, “Kamu adalah muridKu, jika kamu saling mengasihi” (Yoh. 15:12) Karena kasihlah kita dikenal sebagai muridNya, bukan karena kebiasaan untuk mengucilkan dan menghukum seseorang. Karena kata Yesus, “ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat 7:2).


Copyright © 10 October 2008 by Anselm. Meo, SVD