SAPAAN PENGASUH


Selamat bertemu buat para pembaca dan pengunjung blog ini. Kiranya Tuhan kita Yesus Kristus, yang memanggil kita semua kepada kesempurnaan hidup dalam Bapa dan kekayaan rohani dalam KerajaanNya menganugerahkan kegembiraan dan kesuksesan dalam hidup, pelayanan dan keseharianmu.

Anda mengunjungi blog RETRET & REKOLEKSI PASTOR UDIK. Saya suka nama itu, bukan saja karena karya pastoral awal saya sebagai imam, saya lewati sambil mengunjungi berbagai kampung yang sering dicap udik alias kurang maju, tetapi juga karena mengingatkan saya, akan Yesus dari Nasareth, pastor dan gembala sejati yang para muridnya adalah orang-orang sederhana, udik dan marginal.

Apa ada persamaan di antara kita yang mengunjungi blog ini dengan para murid Yesus itu? Saya kira ada dan hal itu adalah kesediaan kita untuk duduk sambil mendengarkan DIA, sang Guru Rohani, Maestro Kehidupan yang tengah bersabda kepada kita.

Selamat menikmati sajian di blog sederhana ini. Selamat menarik diri dari keseharianmu dan menikmati detik-detik berharga berada sang Guru, Pastor dan Gembala dari udik, mulai dari Nasareth hingga ke kampung dan dusun udik pengalaman kita.

Kiranya Tuhan memberkati kita.

Ansel Meo SVD

Senin, Oktober 27, 2008

BERTOLAKLAH LEBIH DALAM (8)

“Mensyukuri Allah yang Sangat Mencintai Kita”

Pengantar :

Allah mencintai kita dan kita hidup karena cinta kasih Allah. Itulah kesadaran mendasar yang telah membingkai permenungan dan perjalanan rohani kita sepanjang hari ini. Dan karena itu, soreh hari ini, kita hendak memahkotai permenungan kita dengan tema syukur, “Mensyukuri Allah yang sangat mencintai kita” dalam perayaan Ekaristi.
Mengapa kita bersyukur? Kata orang, hidup yang disyukuri menjadikan hidup itu dipenuhi berkat. Sebuah lagu dengan motif Flores yang didengungkan selalu di akhir misa, berbunyi begini :
Ucapkan syukur senantiasa, Ucapkan syukur senantiasa. Sebab Allah mengasihi kita.

Doa Pembukaan

Allah Bapa kami yang kekal dan kuasa, jadikanlah kami pendengar SabdaMu dan tanamkanlah dalam hati kami cinta kasih akan NamaMu, dan pupuklah segala yang baik yang tumbuh dalam diri kami. Berikanlah kami kekuatan, agar dapat melaksanakan kehendakMu dan mengabdi kepadaMu dalam kebenaran. Demi Kristus Tuhan kami. Amin

Bacaan :
Ef 3 :14-21 : Betapa dalam kasih Allah kepada kita
Mat 11:25-30 : Datanglah kepadaKu kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat


Renungan/Homili :

Syukur dan Terimakasih adalah Ungkapan Dasariah Manusia

Berhadapan dengan orang yang mengasihi kita, orang bisa merasa itu biasa saja, karena memang kewajiban mereka untuk melakukannya, bisa juga orang merasakan sangat luar biasa, apalagi berhadapan dengan kenyataan bahwa orang yang membuatnya, melakukannya tanpa pamrih. Dua perasaan ini pada umumnya diungkapkan dengan sebuah kenangan, dan dalam kenangan itu selalu dituliskan, dan dikatakan ucapan terimakasih dan syukur. Manusia yang merasakan bahwa ia dikasihi pada umumnya akan selalu bersyukur dan berterimakasih kepada orang yang mengasihinya.

Kita temukan dalam kehidupan kita adanya banyak contoh dan bukti tentang hal itu. Saya teringat akan kartu yang saya terima di Castellamare, sehabis masa liburan saya di sana, dengan tulisan dengan berbagai cara menulis. Di atas kartu itu tertulis kata-kata ini, “Carissimo Anselmo, Infinito GRAZIE al Signore, perchè tu sei un dono precioso per noi per tutta la Chiesa. Wish you all the best. Selamat bekerja. Ditandatangani oleh satu daftar nama, yang hampir semuanya kukenal”

Orang akan selalu mengucapkan terimakasih dan syukur atas kebaikan, atas rahmat dan atas pengalaman bagaimana mereka dicintai, diperhatikan, dibantu dalam hidup. Dan kita soreh hari ini mau mensyukuri Tuhan yang dengan caraNya yang tak kita duga, telah menggunakan berbagai orang, kesempatan, sarana dan apa saja untuk menyatakan cinta itu kepada kita. Allah yang sangat mencintai kita itulah yang kita alamatkan syukur dan terimakasih kita soreh hari ini.

Dan mengapa syukur itu kita nyatakan dalam Ekaristi ? Santa Theresia dari Kanak Kanak Yesus yang dikenal juga sebagai Pelindung Misi dan tentu saja Pelindung serikat-serikat Misi pernah meninggalkan tulisannya, “Aku selalu mengucapkan syukur kepada Tuhan dalam berbagai cara. Dan salah satu cara yang paling istimewa adalah melalui Ekaristi. Karena itu saya akan selalu berusaha melewatkan hari-hari hidupku dengan membukanya dengan Ekaristi”.

Itulah keyakinan seorang Theresia kecil yang tak pernah melewatkan hari-hari hidupnya di tanah misi, tetapi doa-doanya, korban-korbannya untuk misi menjadikan Gereja menghormatinya sebagai seorang pelindung misi. Theresia mengajak kita untuk tidak melewatkan hari-hari hidup kita dengan mengucap syukur kepada Tuhan dalam Ekaristi, karena Ekaristi adalah ucapan syukur Yesus kepada Bapa sekaligus korbanNya tak terhingga kepada Allah untuk semua mereka yang dikasihiNya.
Kasih Allah kepada Kita tak terselami dan karenanya Yesus selalu mengajak kita untuk datang kepadaNya.

Kenyataan bahwa Ekaristi itu adalah puncak hidup gereja sebetulnya berangkat dari keyakinan bahwa dalam Ekaristi Yesus menyampaikan syukur, mempersembahkan korban kepada Allah untuk semua yang dikasihNya.

Hal ini pula yang disampaikan Paulus dalam suratnya kepada orang Efesus. Paulus berdoa dalam sujud mendalam dan khusuk kepada Allah untuk umatnya di Efesus, supaya mereka bertumbuh dalam iman akan Yesus Kristus dan karena iman itu mereka dipenuhi oleh kepenuhan Allah. Kasih Allah kepada umatNya memang tak terpahami, “Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.” (Ef 3, 18-19a).

Kita memang mesti menyatakan syukur kita dalam doa dan ucapan syukur serta sujud kepada Allah, “karena Dia dalam kasihNya mampu melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dalam kuasa yang kini tengah bekerja di dalam kita” (ayat 20). Saya pikir, benar sekali kalau orang bilang, betapa ruginya kita kalau tak berdoa dan bersyukur kepada Tuhan jika Tuhan sungguh ada. Keyakinan seperti inilah yang mendorongku untuk memilih motto imamatku, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu Aku mengasihiMu.” Motto ini adalah sebuah keyakinan, sebuah doa penuh iman, bahwa jauh melampaui isi hatiku, Tuhan mengenal apa yang paling perlu untukku dan untuk pelayananku di tanganNya, dan Ialah yang terlebih dahulu mengasihiku, maka aku tak bisa tidak harus menanggapi kasihNya dengan mengasihi semua dalam hidupku.

Lalu Yesus dalam Injil tadi mengajak kita kembali kepada sikap syukur itu. “Aku bersyukur kepadaMu Bapa, Tuhan langit dan bumi”. Yesus adalah orang yang selalu mengucap syukur kepada Bapanya atas segala sesuatu yang Dia terima dan yang orang-orangnya terima. Makanya doa-doa Ekaristi, selalu dinampakan aspek syukur itu. Dan Yesus di perikop Injil yang sama tadi mengajak, “Marilah kepadaku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.”
Datang kepada Yesus dalam segala situasi hidupmu dan menerima kuk yang dipasangNya “Hukum Cintakasih”

Jika hari ini kita diajak merenungkan secara mendalam tentang kasih Allah kepada kita, di jalan panggilan kita ini, sebenarnya sebuah kesempatan untuk terus mengatakan kepada diri sendiri, bahwa jika kita mengalami cinta dari semua yang mencintai kita, maka sumbernya tak lain adalah Allah sendiri. Allahlah yang mengasihi kita, maka kita mesti selalu bersyukur kepadaNya.

Ajakan Yesus dalam Injil mengingatkan kita sekali lagi bahwa kapanpun dan dalam situasi apapun, datanglah kepada Yesus. Kenakanlah kuk yang dipasangnya kepadamu, karena ringanlah kuk itu. Bila kuk itu dimengerti sebagai pelaksanaan hukum keagamaan, maka kuk yang Yesus kenakan kepada kita, memang ringan tetapi menantang. Dan kuk itu tak lain adalah hukum cintakasihNya.

Saya teringat kebiasaan yang sampai sekarang saya lakukan. Dalam doaku saya tak menggunakan intensi, saya mohon kepadaMu ya Allah, tetapi selalu SAYA BERTERIMAKASIH KEPADAMU karena Engkau memberikan aku .................. (yang tak lain adalah intensi dan permohonan saya.) Saya tulis itu dalam bagian belakang kartu tahbisan saya. Itulah sebuah penemuan sederhana setelah 3 bulan saya menjadi diakon, dan kemudian 12 tahun kemudian saya temukan email yang dikirim selalu kepada saya tentang 7 Doa yang sangat berdaya dan diberi nama DOA 30 DETIK, yang saya bingkaikan di sebuah pigura yang bagus dan saya tempelkan di dinding kamar saya sampai sekarang.
7 doa itu berbunyi begini :

Ya Tuhanku dan Allahku
 Aku sungguh mencintaiMu dengan segenap hatiku, dan dengan seluruh jiwa dan ragaku.
 Aku berterimakasih kepadaMu, untuk segala sesuatu yang telah Kau lakukan dan yang Kau anugerahkan kepadaku setiap hari;
 Engkau ada di dalam aku ya Tuhan, Engkau memberikan aku kekuatan, keberanian, kesehatan dan kedamaian di dalam diriku;
 Maka Berkatilah aku ya Tuhan dengan ..., semua yang aku inginkan, supaya aku dapat melakukan hal-hal yang baik bagi orang lain dengan berkat yang telah Kau berikan ini.
 Di manapun aku berada, aku menjumpaiMu, ya Tuhanku; aku menjumpaiMu di dalam alam ciptaanMu, dan aku menjumpaiMu di dalam keluarga, komunitas dan para sahabatku; karena Aku senantiasa mencari yang Baik dan benar yakni Engkau sendiri dalam diri setiap orang yang kujumpai;
 Karena itu Tuhan, Berkatilah …. Karena Aku mencintainya (mereka), di manapun dia (mereka) berada.
 Bantulah aku ya Tuhan untuk menolongMu, dan gunakanlah aku sebagai alat untuk menolong mereka yang membutuhkan pertolonganMu.

Doa yang sederhana, mudah diingat dan saya sukai karena doa itu bernada positip, mempengaruhi saya menadi orang positip dan mengingatkan saya akan siapa saya, akan siapa mereka yang kucintai dan apa yang saya buat dalam hidup sebagai alat di tangan Tuhan.
Tuhan, Engkau sangat mencintai kami. Kami bersyukur kepadaMu akan kesadaran ini dan ajarilah kami untuk mendoakan syukur itu dalam Ekaristi PuteraMu. Amin

Doa Umat :

 Bagi para pemimpin gereja : Ya Tuhan gembala agung kami, teguhkanlah para pemimpin gerejaMu, agar dengan penuh cintakasih dan setia mendampingi umatMu yang Engkau percayakan kepada mereka. Kami mohon ......................................
 Bagi para pemimpin Bangsa : Ya Tuhan Allah yang kuasa, nyalakanlah api cintaMu dalam setiap hati para pemimpin bangsa, agar dapat memimpin bangsanya dengan adil dan bijaksana. Kami mohon .................
 Bagi Orangtua kami : Ya Tuhan Allah kami, syukur bagiMu atas cinta yang engkau nyatakan lewat orangtua kami, kami mohon berilah berkat dan rahmatMu dalam kehidupan mereka. Kami mohon .............
 Bagi kita semua yang berhimpun di tempat ini : Ya Yesus Sahabat kami, tanamkanlah dan kobarkanlah api cintakasihMu dalam diri kami, agar kami mampu menyelami dan memancarkan sinar kasihMu kepada sesama kami. Kami mohon ..................
 Bagi para arwah : Ya Tuhan pengasih dan Penyayang, berilah ketenangan dan istirahat yang kekal bagi semua arwah yang telah Kaupanggil ke hadiratMu. Kami mohon ........................

Doa Persembahan :

Allah Bapa yang Maharahim, dengan roti dan anggur yang kami persembahkan ini, curahkanlah belaskasihMu secara berlimpah. Perkenankanlah kami yang ikut serta dalam kurban ini menerima dan membagi cintakasihMu kepada sesama. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin

Doa Komunio/Penutup

Allah Bapa Maha Penyayang, dalam diri Yesus PuteraMu, telah Kautunjukkan arti keadilan dan cintakasihMu. Kami mohon perkenankanlah kami yang memuliakan Dikau dengan perayaan Ekaristi ini, hidup yang pantas serta selaras dengan InjilMu. Satukanlah arah pandangan kami dengan pandanganMu dalam melayani sesama kami. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin

Copyright © 17 September 2006, by Anselm Meo, SVD

Tidak ada komentar: