SAPAAN PENGASUH


Selamat bertemu buat para pembaca dan pengunjung blog ini. Kiranya Tuhan kita Yesus Kristus, yang memanggil kita semua kepada kesempurnaan hidup dalam Bapa dan kekayaan rohani dalam KerajaanNya menganugerahkan kegembiraan dan kesuksesan dalam hidup, pelayanan dan keseharianmu.

Anda mengunjungi blog RETRET & REKOLEKSI PASTOR UDIK. Saya suka nama itu, bukan saja karena karya pastoral awal saya sebagai imam, saya lewati sambil mengunjungi berbagai kampung yang sering dicap udik alias kurang maju, tetapi juga karena mengingatkan saya, akan Yesus dari Nasareth, pastor dan gembala sejati yang para muridnya adalah orang-orang sederhana, udik dan marginal.

Apa ada persamaan di antara kita yang mengunjungi blog ini dengan para murid Yesus itu? Saya kira ada dan hal itu adalah kesediaan kita untuk duduk sambil mendengarkan DIA, sang Guru Rohani, Maestro Kehidupan yang tengah bersabda kepada kita.

Selamat menikmati sajian di blog sederhana ini. Selamat menarik diri dari keseharianmu dan menikmati detik-detik berharga berada sang Guru, Pastor dan Gembala dari udik, mulai dari Nasareth hingga ke kampung dan dusun udik pengalaman kita.

Kiranya Tuhan memberkati kita.

Ansel Meo SVD

Sabtu, Mei 31, 2008

KOMUNITAS UNTUK SAUDARA & PELAYANAN (7)

Renungan Keenam

Sebuah Komunitas yang Mengampuni Berulang Kali

1. Doa dan Lagu Pembukaan

2. Bacaan : Matius 18:21-22

21Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" 22Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

3. Memahami Teks dan Strukturnya

Teks ini memang sangat singkat, sesingkat pesan yang mau disampaikannya, yakni tentang pengampunan. Mengapa pengampunan?
Kita sudah lihat dari renungan kemarin, kita diajak untuk mengusahakan rekonsiliasi dan pendamaian saat konflik dan masalah internal dalam komunitas terjadi. Agar anggota komunitas tidak dikeluarkan dari komunitas atau juga untuk mengusahakan rekonsiliasi total, sangat diperlukan pengampunan yang terus menerus dan berulang-ulang di antara anggota komunitas murid Yesus.
Dan di sini Petrus menjadi juru bicara (lihat Mat 4,18-20; 10,2; 14,18-29) mereka, “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, (sebagai sapaan murid-murid kepada Yesus – lihat Mat 8,6) sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
Pertanyaan di sini bukanlah tentang tanggung jawab pribadi dari orang yang melakukan kesalahan. Sudah dijelaskan sebelumnya dalam Mat 18,15 yakni tentang “mendengarkan” (jika ia mendengarkan engkau) yang melibatkan juga pengenalan akan masalah dan dosa dan meminta pengampunan atasnya. Lebih dari itu, pertanyaan Petrus sebenarnya menyangkut peran dari orang yang bersalah.
Mau disampaikan di sini bahwa kebaikan orang yang menjadi korban untuk mengampuni orang yang bersalah sama sekali tidak menghapus kesalahan serius dari orang yang melakukannya dan tidak juga mengurangi tanggung jawab komunitas untuk menerima orang yang bersalah, bahkan sampai pada kenyataan bahwa dia tidak lagi menjadi anggota komunitas (yang didoakan selalu oleh komunitas).
Lalu tentang angka tujuh (7), mengapa angka 7?
Mungkin hanya mau secara sederhana mencatat banyaknya pelanggaran dan banyaknya pengampunan yang diterimanya. Atau mungkin juga angka ini menggemakan kembali Kitab Imamat 16 dan Imamat 19 sebagaimana dikutip dalam Mat 18,15.
Jawaban Yesus menjelaskan bahwa tidak ada batas, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

4. Untuk Direnungkan

Tema yang diangkat di sini adalah sebuah tema tunggal yang merupakan isu penting dalam komunitas murid Yesus dan kiranya menjadi juga isu penting dalam komunitas-komunitas kita. Tentang pengampunan yang terus menerus dan berulang-ulang.
Beberapa tahun lalu, di Jakarta saya pernah bertemu dengan seorang gadis yang tidak dapat melihat sejak lahir. Saya sangat kagum melihat tangannya yang lentik memainkan melodi gitar saat menyanyikan lagu pujian. Dia begitu sukacita.
Setelah selesai, saya dekati dia dan ngobrol seputar masalah kehidupan.
Ketika saya tanya latar belakang hidupnya, inilah kesaksian yang dia syeringkan kepada saya.
“Ketika dalam kandungan orang tuaku berusaha menggugurkan aku, tetapi ALLAH menghendaki aku lahir. Dan akupun lahir dengan mata tidak dapat melihat. Dari kecil aku diperlakukan dengan tidak wajar dan tidak adil, bahkan aku harus bekerja seperti kakak-kakaknya yang lain yang bisa melihat. Aku sering diejek, dihina bahkan dipukul keluargaku. Yang paling menyakitkan takkala orang tuatu mengusir aku dari rumah.
Akupun bertumbuh menjadi anak yang kasar dan kejam khususnya terhadap anak-anak, bahkan aku sering menyiksa anak kecil. Sekalipun aku tidak bisa melihat, tetapi aku pernah menjadi bos dari sebuah gank.
Awal pertobatanku, ketika aku bersama anak buahku hendak mengadakan keributan pada sebuah acara yang dihadiri artis kondang Nur Afni Oktavia. Sebelumnya aku tidak tahu bahwa acara tersebut adalah KKR ( Kebaktian Kebangunan Rohani ). Ketika kami masuk ruangan, pujian & penyembahan sedang dinaikkan. Saat itu aku menyesal sekali dan mau pulang saja. Sebelum Altar Call, aku merasakan didepanku sepertinya ada layar yang menampilkan semua kejahatanku. Saat itulah aku menangis, menangis .... dan terus menangis dan menangis adalah pantang bagiku waktu itu. Akhirnya aku bertobat saat itu juga. Aku mau lupakan semua masa laluku, aku mau menikmati hidup bersama-NYA.
Akupun permisi baik-baik kepada teman gankku yang lain, dan mereka semua bilang bahwa aku paling lama 2 sampai 3 hari bisa bertahan hidup tanpa mereka. Tetapi satu hal yang Tuhan lakukan dalam hidupku yakni aku dimampukan untuk melewati setiap masalah hidupku”.
Setelah itu sayapun bertanya, "Bagaimana dengan orang tua dan kakak-kakakmu, apakah kamu sudah mengampuni mereka?".
Dia jawab, "Sebelumnya saya sulit mengampuni mereka, bahkan saya bertahun-tahun bergumul untuk bisa mengampuni, dan akhirnya saya pun bisa", lanjutnya. Ketika saya dipukul, diejek, dihina, diusir ....saya rasa semuanya itu belum seberapa ketika DIA diludahi, DIA dicambuk, DIA dimahkotai duri, DIA disalibkan...
DIA tidak bersalah, tetapi mau menanggungnya karena DIA mengasihi saya dan kamu ... begitu dia katakan kepada saya.
Gadis buta ini memang mengisahkan pergulatan kehidupannya tentang bagaimana dia belajar mengampuni. Dan kisah ini memang bertemakan tentang "BELAJARLAH MENGAMPUNI", sama seperti permasalahan yang dihadapi oleh komunitas murid Yesus dalam Injil di atas.
Baik Injil maupun cerita gadis tadi mengatakan kepada kita bahwa Mengampuni itu penting. Mengapa? Karena pengampunan membawa persahabatan. Pengampunan akan membawa pengampunan Allah. Dan pengampunan membawa sukacita.
Saya pernah membaca majalah TIME dalam risetnya tentang pengampunan. Menurut majalah Time Edisi 15 April 1999, pengampunan adalah topik menarik untuk dianalisa dalam sebuah riset. Beberapa hasil penyelidikan menunjukkan bahwa orang yang tidak mengampuni akan meningkatkan stres, kualitas kerjanya buruk, daya pikirnya buruk, dan untuk jangka panjang dapat mengurangi daya penguasaan diri. Beberapa ahli riset mengatakan bahwa ini disebabkan oleh penyakit jantung dan terganggunya sistem syaraf. Dan yang pasti orang yang menyimpan dendam akan kehilangan sukacita. Setiap hari hidupnya dipenuhi dengan kebencian. Jadi untuk mengembalikan sukacita, belajarlah mengampuni.
Mengampuni memang bukan segampang mengucapkannya, tetapi memerlukan pertolongan dari Tuhan sang Maha Pengampun. Mungkin ada diantara kita mengalami seperti ini, kita diejek, difitnah, dipukul, dikucilkan atau lebih parah lagi. Sekarang pilihan ada pada kita, mau apa tidaknya kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita tak ada yang dapat memaksanya, semua tergantung pada kita.... Jika mau, lakukanlah ... karena Tuhan Yesus juga pernah berkata, “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni".
Saya kira ada beberapa hal yang bisa menjadi referensi kita berhubungan dengan pengampunan yang dsampaikan Yesus dalam perikope injil maupun disampaikan oleh kisah gadis buta dalam ceritera di atas.
(a). Semua anggota komunitas tanpa kecuali harus sadar bahwa pengampunan adalah sebuah komitmen panggilan pribadi dan komitmen panggilan komunitas.
Komunitas beriman tidak bisa tidak membuat pilihan ini sebagai pilihan dasar. Artinya kemampuan untuk mengampuni harus menjadi sebuah kemampuan dasar manusiawi dan tindakan iman dasariah. Tidak bisa ditolerir bahwa seorang religius, imam berkata bahwa dia tidak bisa mengampuni orang lain. Mengapa saya katakan sebagai sebuah kemampuan dasar yang harus dilatih dan dibiasakan?
Renungan kemarin mengedepankan tentang prosedur bagaimana mengatasi konflik dan pelanggaran dalam komunitas. Dan tujuan akhir dari prosedur itu tidak lain agar damai dan rekonsiliasi menjadi tetap dan langgeng dalam komunitas.
Kemampuan ini mesti dilatih dan diusahakan. Karena itu penyadaran tentang kesalahan menjadi langkah awal yang penting. Orang bisa mengampuni kalau ia sungguh tahu tentang persoalan dan kesalahan yang dibuat. Orang memahami sejauh mana kesalahan itu mengakibatkan secara negatip sebuah komunitas. Pengampunan mesti dimulai dengan menerima orang yang bersalah sebagai orang yang mampu memperbaiki kesalahannya, dan berpotensi untuk menjadi orang baik kembali. Pengampunan harus dimulai dengan percaya bahwa dia yang bersalah mampu memperbaiki kesalahannya. Itulah fokus pertanyaan Petrus ketika dia pertanyakan peran dari orang yang melakukan kesalahan.
(b). Pengampunan bisa mulai kita berikan dalam doa.
Renungan terdahulu juga menekankan perlunya mendoakan orang yang bermasalah, orang yang bersalah. Adalah tugas komunitas untuk selalu mendoakan anggotanya yang bersalah, anggotanya yang menyimpang agar Tuhan menunjukkan jalan perbaikan dan kesadaran akan kesalahan.
Siapa yang meragukan kuasa doa? Saya selalu dalam memberikan kosili kepada para religius yang sulit mengampuni dan memiliki dendam membara, dengan mengajak mereka untuk mendoakan orang yang bersalah kepada mereka.
Tahun 1993 sebelum tahbisan imam, dalah sebuah retret karismatik seorang imam pembimbing retret menemukan kenyataan bahwa saya juga sulit mengampuni seseorang sejak saya masih berusia 12 tahun. Penemuan dia itu meyakinkan saya bahwa saya memang demikian, karena imam ini tahu ttg siapa saya walaupun saya tak pernah menceriterakan masalah saya kepada dia. Dan nasihatnya waktu itu, “Mulai saat ini sampai hari tahbisan nanti, nama orang itu harus selalu kau sebutkan ketika engkau mendoakan Bapa Kami”.
Sejak saat itu saya melakukannya. Dan hasilnya luar biasa. Hari saya ditahbiskan menjadi imam, saya temukan bahwa piala tahbisan saya tertera nama orang yang amat saya benci itu. Di piala itu tertulis, “kenangan dari ....”
Dan saat saya mengangkat piala itu dan mendoakan kata kata konsekrasi, sayapun memahami bahwa piala itu adalah piala pengampunan. Dan dialah oarng pertama yang saya ampuni sebagai seorang imam.
Kita bisa mengampuni melalui doa. Berdoa membantu kita dengan bantuan Tuhan melihat orang yang bersalah sebagai orang yang bisa kita percayai lagi untuk berubah.
Komunitas diminta untuk selalu mendoakan mereka.
(c). Pengampunan memiliki daya membuka pintu rahmat Allah dan membuka ketertutupan diri kita kepada orang lain. Seperti penelitian majalah TIME di atas, hasilnya menunjukkan akibat negatip dari kebiasaan orang yang tidak bisa mengampuni.
Dan akibatnya ialah orang yang tidak mengampuni akan meningkatkan stres dalam hidupnya, kualitas kerjanya buruk, daya pikirnya buruk, dan untuk jangka panjang dapat mengurangi daya penguasaan diri.
Ini suatu hasil yang mencengangkan dan bagaimana kita bisa mengharapkan pelayanan dari orang-orang yang stress, dari orang yang kualitas kerjanya buruk dan daya pikirnya juga buruk. Bagaimana kita bisa memperoleh pelayanan dan pengabdian dari seseorang yang tidak bisa menguasai dirinya sendiri?
Belajar mengampuni dalam hidup adalah cara untuk membuka keran-keran rahmat Allah dan mendatangkan sukacita dan persahabatan.
@Roma, 2007-2008, P. Ansel Meo SVD

KOMUNITAS UNTUK SAUDARA & PELAYANAN (6)

Renungan Kelima

Tantangan Dalam Komunitas dan Upaya Untuk Mengatasinya

Doa dan Lagu Pembukaan

Bacaan : Mat 18:15-20

15"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. 16Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. 17Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. 18Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. 19Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. 20Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Memahami Teks dan Strukturnya:

Kita sudah lihat paling kurang ada lima ajakan mendasar yang diperkenalkan Yesus tentang gambaran komunitas muridNya yang Ia kehendaki. Kelima gambaran itu adalah : (1) lukisan tentang menjadi anak kecil yang menunjukkan tempat dan status sosial dari mereka yang selalu diremehkan dan ditandai oleh marginalitas dan tak mampu. (2) Karena itu komunitasnya menghidupkan jalan hidup alternatif yakni jalan salib sebagai lawan ttg konsep kebesaran dalam pandangan dunia. (3) Oleh sebab kesulitan dan tantangan inilah, para murid hendaknya tak menyebabkan penyesatan. (4) Mereka harus saling mendukung dan memperhatikan, secara aktif siap memperhatikan satu sama lain sama seperti Allah menjaga mereka. Dan (5) dengan cara ini mereka merangkul cinta Allah ke dalam komunitas mereka.
Kendatipun ajakan Yesus ini begitu bagus, kita tak dapat menghindari kenyataan adanya konflik di antara manusia, terutama konflik di antara orang-orang yang selalu ditekan dalam masyarakat, kaum minoritas dan masyarakat pinggiran. Bagaimana caranya komunitas murid Yesus yang beranggotakan orang-orang dari masyarakat kecil dan pinggiran ini dapat mengatasi konflik di antara mereka. Perikope injil yang kita baca dan renungkan ini menggarisbawahi tentang tantangan dan resolusi konflik dalam komunitas murid Yesus.
Baiklah kita ingat bahwa dalam abad pertama kekristenan sudah sangat berkembang juga berbagai prosedur dan cara untuk membantu para anggota berbagai komunitas yang ada waktu itu untuk mengatasi konflik yang terjadi di antara mereka.
Ada beberapa hal yang bisa kita garisbawahi sebagai semacam prosedur atau cara yang dianggap baku dan berlaku untuk membantu komunitas murid Yesus untuk mengatasi konflik dalam komunitas mereka.
(a). Menunjukkan kesalahan dalam pertemuan pribadi di antara dua orang (Mat 18,15).
Dalam Mat 18, 1-14 ditunjukkan kenyataan bahwa komunitas murid Yesus adalah komunitas yang tak sempurna. Apa yang terjadi “jika saudaramu atau saudarimu berdosa terhadap engkau”. Saudara dan saudari di sini mewakili anggota dari sebuah keluarga atau anggota komunitas murid Yesus (lihat Mat 12,46-50).
Langkah pertama harus dibuat yang dimulai oleh mereka yang dirugikan, bukan oleh mereka yang bersalah. Jadi orang yang jadi korban itulah yang harus memulai. Untuk apa? Untuk “pergi dan menunjukkan kesalahan” orang yang itu dalam suatu pertemuan pribadi antara mereka. Dan ini harus dibuat ketika mereka berdua sendirian. Ini menegaskan bahwa berdosa terhadap saudara sungguh merusak hubungan dan persaudaraan. Lebih dari itu dibutuhkan aksi untuk mengatasinya. Orang yang dirugikan di sinilah yang harus beraksi sebagai gembala yang pergi mencari yang tersesat atau saudaranya yang bersalah (lihat Mat 18,10-14 dan juga Im. 19,17).
Dan jika orang itu mendengarkan, maka sebenarnya engkau telah mendapatkannya kembali, Mendengarkan di sini sebenarnya lebih dari sekedar mendengar dengan telinga, tetapi melibatkan seluruh diri yang berarti juga melibatkan juga pemahaman akan kesalahan, penyesalan dan pengampunan, dengan tujuan untuk mencapai rekonsiliasi yang sejati.
(b). Kunjungan dan melibatkan juga para saksi (Mat 18,16).
Namun hasilnya tidak bisa dijamin: “Jika engkau tak didengarkan”. Nah di sini harus diikuti langkah berikutnya yakni mengunjungi orang itu secara kontinyu dan meminta kehadiran para saksi dalam kunjunganmu kepada yang bersalah itu. “Bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi.”
Ada proses hukum yang diakui jelas di sini dan berlaku secara umum untuk diterapkan dalam berbagai aosiasi atau perkumpulan pada abad pertama itu, sebagaimana ada dalam Ulangan 19,15.
Jadi kehadiran para saksi sebenarnya mewakili otoritas komunitas dan keinginan yang besar dari komunitas untuk mendamaikan mereka.
(c). Usahakan rekonsiliasi melalui lembaga Gereja sebagai komunitas (Mat 18,17).
Kunjungan di atas bisa juga menghasilkan perdamaian. Tetapi tetaplah tak pasti. “Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.” Kenapa jemaatlah yang disbutkan? Karena waktu itu jemaat adalah komunitas Yesus yang menjadi otoritas alternatif berhadapan dengan pertemuan kota uang berada di bawah kontrol penguasa (lihat Mat 16,18). Jadi apa yang dulu hanya melibatkan dua orang, kemudian melibatkan juga dua atau tiga saksi dan kini melibatkan seluruh komunitas atau jemaat.
Hal seperti ini sebenarnya memberikan pengarus besar terhadap upaya perdamaian, tetapi hasilnya pun tetap belum pasti. “Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.”
Apakah yang terjadi di sini? Apakah ini bentuk formal dari tindakan ekskomunikasi? Ataukah lebih merupakan satu pernyataan informal bahwa relasi atau hubungan baik telah retak dan orang yang bersalah itu telah dengan tahu dan mau mengeluarkan dirinya dari komunitas dengan cara menolak ajaran Yesus sendiri? Kelihatan yang kedua ini lebih ditekankan dalam peristiwa ini.
(d). Doakanlah supaya upaya rekonsiliasi yang diusahakan itu berhasil ( Mat 18, 18-19)
Tanggapan komunitas dijamin oleh Allah sendiri. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.“ Kita bisa bandingkan dengan Mat 16,19 di mana Petrus mewakili tugas seluruh komunitas untuk menginterpretasikan kehendak Allah dalam Kitab Suci dan ajaran Yesus. Dan adalah tugas mereka mewakili komunitas waktu itu untuk mempertimbangan cara hidup yang mengekspresikan Kerajaan Allah. Di sinilah kita dapat memahami tindakan mengikat dan melepaskan.
Komunitaslah yang harus mempertimbangan kurangnya penyesalan dan perlunya pengampunan bagi orang yang bersalah itu. Komunitas jua harus memutuskan apakah yang bersalah itu ada di dalam ataukah di luar komunitas para murid.
Tetapi perdamaian dan rekonsiliasi tetap mendapatkan penekanan di sini. “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.”
Jadi komunitas melakukan tugas restorasi yang sulit. Makanya harus didoakan supaya rekonsiliasi dan pendamaian bekerja sungguh. Menyetujui untuk mendoakan orang yang bersalah mengekspresikan kemauan baik komunitas untuk mengampuni orang yang bersalah dan mengusahakan rekonsiliasi.
(e). Buatlah itu dalam Nama Yesus karena Nama itu mewakili kehadiran Allah dan KerajaanNya (Mat 18, 20). Nama Yesus mewakili Kerajaan Allah yang penuh kerahiman, mengampuni dan dapat ditemukan dalam komunitas yang mengampuni dan memiliki komitmen kepada rekonsiliasi.
Ketika menampilkan Nama Yesus, di sini kita berhadapan dengan Pribadi Yesus sendiri sebagai Dia yang memanggil kita kepada setiap komunitas. Pertanyaan mendasar yang diajukan kepada kita pada renungan pembukaan, di sini mendapat penekanan kembali. “Siapakah Yesus yang tengah memanggil dan menempatkan kita dalam berbagai komunitas religius itu?”
Jika Dia memanggil kita semua kepada persahabatan denganNya dan dengan satu sama lain, pribadi ini mestinya seorang Sahabat dalam arti sepenuhnya. Seorang yang memberikan dirinya bagi sahabatnya, seorang yang penuh kerahiman, sorang pencinta dan pengampun. Sebagai Sahabat, Yesus telah membuktikan siapa Dia sesungguhnya bagi para muridNya. Seorang Sahabat yang menyerahkan nyawaNya bagi sahabat-sahabatNya, karena Ia memang mencintai mereka.

Menjadi Gereja sebagai Komunitas yang Tetap Baru

Berasaskan pada Kristus sebagai “yang sulung di antara banyak saudara” (Rom 8.29) kita akhirnya dipanggil untuk menghidupkan komunitas kita sungguh sebagai Gereja yang adalah komunitas yang tetap baru. Sadar bahwa Kristus telah menyerahkan diri bagi kita domba-dombanya (Yoh 10:15) dan mendoakan kita kepada Bapanya dengan bersabda, “Ya Bapa peliharalah mereka dalam NamaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu, supaya mereka menjadi satu sama seperti kita” (Yoh 17.11); kita akhirnya mesti memiliki komitmen untuk setiap komunitas kita sebagai gereja yang merupakan komunitas yang tetap baru. Dan ini bisa dihidupkan dengan mengikuti prosedur komunitas murid Yesus yang digambarkan di atas.
Dan secara sederhana, bisa diusahakan ketika para anggotanya berkomitmen untuk :
1. Bertobat terus-menerus: Menjadi manusia oleh karena Injil atau khabar gembira yang diwartakan Yesus tidak mengenal titik henti. Setiap saat, kita harus membaharui diri dan mencari lagi apa yang lebih berkenan bagi Allah dan pelayanan bagi KerajaanNya.
2. Saling Menerima: Komunitas religius yang kita hidupkan yang mengikat hingga akhir hayat kita tidak selamanya menarik hati. Perbedaan-perbedaan sifat, karakter, hobi, kedalaman penghayatan dan kegiatan dalam karya pelayanan, sering menimbulkan luka-luka sehingga mengakibatkan keretakan hubungan di antara saudara. Maka penting juga untuk mengingatkan apa yang dicanangkan pendiri-pendiri kita seperti, menjauhkan egoisme, jangan kejar jabatan tetapi berkobarlah dalam pelayanan, hargai keunggulan dan sifat positif dalam diri sama saudara.
3. Merasakan derita sama saudara: Sakit dan derita bisa menimpa siapa saja. Kasih yang paling tulus akan tampak dari orang yang hadir dalam derita sesama saudaranya. Karena si penderita sedang tak berdaya, ia tak dapat membalas budi, malah tuntutannya bisa bertambah-tambah. Perhatian yang ditunjukkan bias sekecil apapun kepada orang yang menderita, amatlah berharga dan melegakan hati.
4. Syering perasaan : Dalam komunitas, cukup banyak saat di mana kita bisa saling syering dari hati ke hati. Kapitel rumah, hari komunitas, rekoleksi bulanan, visitasi pimpinan dan rekreasi bersama merupakan saat-saat di mana kedongkolan, salib dan gangguan bathin terungkapkan dan dibagi bersama. Jangan tunggu sampai sama saudara melakukan kesalahan, lalu mulai dengan prosedur yang saya gambarkan di atas tadi. Itu hendaknya menjadi yang terakhir untuk menyelamatkan sama saudara.
5. Semangat pengorbanan : Mengapa mau menjadi dan terus bertekun sebagai seorang religius? Bukan karena saya memang layak untuk itu, tetapi saya berkomitmen untuk itu karena saya ingin berkorban untuk orang lain. Maka semangat berkorban untuk sama saudara harus ada pertama-tama dalam diri seorang religius. Pengorbanan seperti itu bisa dimulai dengan menerima bagian entah itu makanan, barang, atau terlebih lagi tugas yang orang lain tak suka untuk menggembirakan orang lain. Pengorbanan dalam komunitas sering kali berarti juga membiarkan sama saudara mengambil tugas-tugas yang “lebih mulia” dan saya mengambil tugas-tugas sederhana yang kurang diminati orang lagi, karena pikir ketinggalan jaman.
6. Cintakasih dan perhatian yang hangat: Dan hal terakhir untuk disebutkan di sini adalah cinta yang hangat. Kristus mencintai sampai mengorbankan dirinya. Menjadi religius itu satu dari sekian banyak cara mencintai. Kita dipanggil untuk mencintai lewat panggilan kita. Terlebih dahulu mengulurkan tangan, lebih menawarkan dan mengajak tanpa diminta, itu konsekwensi dari cara mencinta kita yang khas ini. Dan berhadapan dengan orang yang bersalah seperti dalam perikope tadi, kita kaum religius harus berinisiatip untuk mendapatkan mereka yang bersalah kepada kita.
Enam cara sederhana tapi butuh komitmen untuk menghidupkannya. Karena sebagai saksi Kristus yang hidup dalam gerejaNya, kita memang mau tak mau harus meniti jalan kecil ini sebagai satu tantangan untuk mengatasi berbagai masalah salam komunitas-komunitas kita.
@Roma, 2007-2008, P. Anselm Meo, SVD

KOMUNITAS UNTUK SAUDARA & PELAYANAN (5)

Renungan Keempat :


Komunitas Persaudaraan - Sebuah Komunitas yang Saling Memperhatikan

1. Doa dan Lagu Pembukaan

2. Bacaan : Matius 18:10-14

10Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga. 11(Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.)"
12"Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 13Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. 14Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."

3. Memahami Teks dan Strukturnya

Yang bisa kita temukan di sini setelah peringatan akan bahaya penyesatan terhadap para murid, komunitas murid Yesus diminta untuk terlibat dalam upaya untuk menjadi komunitas yang saling melayani dan memperhatikan.
Ada 4 hal yang bisa dijelaskan di sini untuk lebih memahami teks Injil yang mau kita renungkan ini.
(a). Yesus menekankan ttg betapa berartinya setiap muridNya di hadapan Allah (Mat 18,10-11).
Ajakan Yesus dalam perikop ini tidak hanya dialamatkan kepada sekelompok murid tetapi ditujukan kepada semua muridNya, sambil mengingatkan mereka tetang betapa rapuhnya kondisi para muridNya berhadapan dengan dunia dan struktur pemerintahannya.
Ajakan untuk jangan menganggap rendah (lihat juga Mat 6,24) dipakai di sini untuk menunjukkan arti kurangnya hormat kepada para murid. Juga menunjukan arti tidak mencintai para murid. Yesus mengingatkan komunitasnya bahwa jika sikap inilah yang terjadi dalam komunitas maka cepat atau lambat komunitas akan mengalami kehancuran. Sikap itu menghancurkan komunitas.
Ajakan Yesus yang berupa semacam peringatan di atas ditutup dengan satu pernyataan positip, “Ingatlah” yang sesungguhnya menunjukkan betapa Allah menghargai para murid Yesus, bahwa kehadiran mereka ada di hadapan Allah. Allah memperhatikan mereka satu persatu, “Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga”. Jadi melalui para malaikat inilah ditunjukkan bahwa komunitas murid Yesus ada dalam perlindungan Allah.
Tidak hanya itu, ajakan Yesus ini mengandung perintah secara implisit, bahwa jika demikianlah yang terjadi di Sorga, demikian seharusnya terjadi di antara para anggota komunitas Yesus di dunia (lihat Mt 6,10). Sejalan dengan itu ada peringatan juga bahwa jika Allah di Sorga melihat segalanya, Ia akan menghukum mereka yang melakukan penyesatan terhadap para murid Yesus ( Mat 18,6-9.10a) dan akan dihukum sebagaimana ditunjukkan dalam Mat. 18, 6-9.
(b). Penekanan Yesus ttg para muridNya sebagai bagian integral umat kesayangan Allah. (Mat 18,12).
Kita lihat di sini ada dua pertanyaan untuk menjelaskan tentang pemeliharan dan tuntunan Allah.
Gambaran tentang gembala dan domba secara jelas menunjuk kepada tradisi Yahudi yang memandang umat Allah sebagai domba gembalaan dan pimpinan mereka sebagai gembala (bdk Maz 100. Lihat juga Mat 2,6; 9,36; 10,6 dll.) Maka gambaran yang dipakai di sini hanya mempertegaskan identitas murid Yesus sebagai suatu bagian integral dari umat Allah. Di lain pihak teks ini juga mengeritik para pemimpin agama secara khusus dalam Ezekiel 34, yang dinilai gagal untuk memenuhi tugas mereka menjadi gembala umat. Jadi bertentangan dengan sikap Allah kepada pemimpin, Allah sendiri yang akan mencari domba atau umatNya yang hilang.
Berhubungan dengan domba, dilukiskan bahwa domba memiliki kemampuan untuk menyimpang, keluar dari kawanan. Dan dalam konteks 18,1-10, domba yang hilang ini adalah seorang murid yang tidak setia yang disebabkan oleh perbuatan murid lainnya ataupun karena penganiayaan dan tantangan. Biarpun demikian domba yang tersesat itu dinilai berharga.
Apa yang dilukiskan di sini sesungguhnya adalah tentang Yesus dalam misinya di tengah orang Israel.
(c). Kegembiraan Allah ketika mendapatkan kembali muridNya yang bertobat (Mat 18,13).
Teks ini berbunyi, “jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat”. Bersama perumpamaan tentang harta terpendam (lihat Mat 13,44-45), di sini kenyataan menemukan kembali domba ini dirayakan dengan kegembiraan yang sangat besar.
Ada penekanan diberikan kepada kegembiraan untuk menerima kembali yang hilang lebih daripada memiliki yang lainnya. Mengapa demikian? Mungkin saja disebabkan oleh kenyataan bahwa menemukan kembali yang hilang adalah sesuatu yang amat tak pasti, meminta usaha yang luar biasa untuk mendapatkannya.
(d). Perintah kepada komunitas untuk meniru Yesus untuk selalu siap mencari murid yang hilang (Mat 18,14).
Gembala mewakili kehendak Allah : “Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."
Domba yang tersesat memang beresiko hilang atau mati, yang tidak hanya menunjuk kepada keadaan eskatologis ( Mat 5,29-30) tetapi juga menunjukan suatu situasi hilang yang menyebabkan Allah menyelamatkannya (Mat 8,25; 10,6)
Tetapi bagaimana penyelamatan dari Allah bisa dipenuhi? Nah, di sinilah peran murid sangat ditekankan. Keselamatan dari Allah akan terlaksana dengan perantaraan para murid (Mt 6,10; 7,21; 12:50). Jadi kehendak Allah untuk menyelamatkan diberikan kepada komunitas para murid Yesus untuk meneladani sang Gembala (Yesus/Allah) dalam hal siap siaga dan aktif mencari siapapun dari murid Yesus yang tersesat.
Mengapa demikian ? Karena Allah dan Bapa itu mencintai semua tanpa diskriminasi dan pilih kasih (lihat Mat 5,45 dan Mat 18,10).

4. Ajakan Untuk Kita dan Komunitas

Bacaan di atas mengandung banyak hal untuk diterapkan dalam kehidupan komunitas murid Yesus dan komunitas religius dalam usahanya untuk menjadi komunitas yang sungguh saling memperhatikan, saling meneguhkan dan mendukung dalam hidup dan pelayanannya.
Ada dua hal yang bisa kita renungkan dari perikope di atas.
Komunitas Murid Yesus yang Sejati adalah komunitas yang memiliki penghargaan yang tulus kepada masing-masing anggota, dan penghargaan terhadap fungsi dan peran para anggotanya.
Sub judul tema di atas adalah Komunitas yang saling memperhatikan. Komunitas yang memperhatikan memberikan penekanan pada pembentukan hati nurani dan sikap menghargai sebagai suatu tindakan beriman. Mengapa tindakan beriman? Karena dasar penghargaan itu bersumber pada Allah yang menghargai masing-masing murid dan umatNya sebagai yang berharga, yang malaikat-malaikatNya duduk melayani Allah siang dan malam.
Jika Allah sedemikian mencintai umatNya, maka para anggota komunitas harus saling melayani, saling menghormati dan menghargai. Ajakan ini disertai juga dengan peringatan supaya tidak saling menyesatkan karena tindakan itu hanya akan berakibat kehancuran komunitas.
Komunitas yang saling menghargai secara tulus hendaknya menjadi juga komunitas yang saling mendukung dan tidak saling menjual atau menjelekan satu sama lain. Mungkin prinsip sederhana ini bisa menjadi bantuan kita untuk bertindak. Seorang Romo Paroki di Benteng Jawa dulu pernah katakan kepada saya, yang waktu itu praktek di parokinya. “Engkau SVD dan saya Projo. Tetapi kita berdua sama-sama imam. Karena engkau jaga saya dan saya jaga engkau. Di kamar makan kita bisa bertengkar tetapi depan umat, kita berdua hanya SATU.”
Perbedaan di antara anggota komunitas bukanlah bahaya tetapi kekayaan yang membantu kita menghidupkan komunitas kita. Jangan mencari dukungan di luar komunitas dengan menceriterakan keburukan anggota komunitasmu.
Apakah penghargaan yang tulus dan cinta masih menjadi prinsip yang memerintah dalam komunitas di mana anda hidup?
Komunitas Murid Yesus sejati adalah komunitas yang manusiawi.
Dalam banyak kesempatan rekoleksi dan retret untuk para novis suster dan frater, saya selalu mengatakan begini, “Belajarlah pertama-tama menjadi manusia yang baik, manusia sejati sebelum kamu mau menjadi suster atau pastor!”
Menjadi manusia yang manusiawi meminta dari kita menyadari siapa kita, menyadari kelebihan dan kelemahan kita, yang oleh Allah dianggap layak untuk menadah rahmatNya yang luar biasa. Pengenalan diri dengan segala karakter kemanusiaan kita akan membantu kita untuk mengerti mengapa Allah menjadikan kita ini citraNya. Citra Allah yang manusiawi seperti kita memiliki kemungkinan-kemungkinan untuk menjadi baik dan untuk gagal. Kita berpotensi juga untuk hilang dan tersesat karena kemanusiaan itu.
Maka menjadi komunitas manusiawi artinya menerima kemungkinan bahwa anggota komunitas bisa salah, keliru, gagal dalam usahanya menghidupi nasihat-nasihat Injil dan dalam usahanya membangun komunitas. Bila hal ini terjadi komunitaslah yang harus pertama-tama menjadi tempat dia diterima, dimaafkan, diberi kemungkinan untuk kembali menemukan jalan yang benar, dan bukannya menghukum dia dan menjauhkan dia.
Menjadi komunitas yang manusiawi artinya juga belajar dari kegagalan dan kesalahan orang itu untuk menjadi pelajaran komunitas. Bagi Yesus, usaha mendapatkan kembali domba yang hilang adalah tantangan namun baginya domba yang hilang tetaplah yang berharga dan selalu dicintaiNya.
Bagaimana komunitasmu bertindak berhadapan dengan kelemahan dan kegagalan dalam menghidupkan nilai-nilai Injil oleh para anggotanya?
Komunitas Murid Yesus yang Sejati adalah komunitas yang siap dan aktif mencari anggotanya yang tersesat, dan berpesta karena kembalinya mereka ke dalam komunitas.
Potensi hilang yang dimiliki oleh setiap murid Yesus justru membuat Yesus menyerahkan mandat kepada para muridnya untuk berusaha meneguhkan murid-murid lain. Petrus pernah diminta Yesus demikian.
Tugas para anggota komunitas berhadapan dengan anggota yang menyimpang adalah mencari secara aktif dan siap menerima dia kapan saja dia kembali. Kembalinya seseorang anggota ke dalam komunitas harus menjadi kesempatan untuk Pesta, Syukur dan kesempatan belajar lagi tentang usaha mengenal anggota komunitas.
Di sini peran pemimpin menjadi vital. Pimpinan komunitas harus menjadi orang yang aktif mencari dan memberikan bantuan bagi anggotanya yang menyimpang, dan bukannya menjadi institusi yang menghukum dan membuat anggota tersebut lebih jauh menghindar.
Cara apa saja yang diusahakan komunitasmu untuk mengembalikan anggota komunitas yang menyimpang ke dalam komunitas?

5. Penutup

Permenungan ini ingin saya tutup dengan satu kisah yang terjadi di negeri tetangga kita Filipina tentang pertobatan seorang biarawati. AKU BUTUH TANGANMU.
Seorang suster. Setelah terjadi hujan lebat yang mendatangkan banjir dan menghanyutkan puluhan rumah penduduk di daerah kumuh Philipina, datang mengunjungi tempat itu. Ketika tiba di Smoky Mountain yang terkenal itu, suster melihat seorang anak berdiri telanjang di depan sebuah rumah. Dinding rumah yang terbuat dari sisa-sisa sampah itu telah terbawa banjir. Dengan pandangan sejenak, segala yang ada dalam rumah tersebut bisa dilihat tanpa hambatan apapun, karena memang rumah tersebut tak berdinding. Dengan penuh rasa belas kasih suster itu bertanya; “Di manakah ibumu?”
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut anak itu. Matanya memandang jauh ke depan. Namun pancaran matanya mengatakan bahwa ia tak memiliki masa depan yang jelas. Ia telah kehilangan segalanya. Kedua orang tuanya telah hanyut bersama banjir. Dan satu-satunya yang kini ia miliki cumanlah sebuah rumah tak berdinding, sebuah rumah tak beratap. Matanya jauh menatap sebuah kehampaan.
Sang suster seakan mendapat pukulan yang keras dalam bathinnya. Kata-kata Yesus terdengar jelas di telinga suster itu; “Aku datang agar kamu memperoleh kepenuhan hidup.” Namun......apakah anak ini memperoleh kehidupan yang penuh?? Suatu kepenuhan dalam kehampaan?? Dalam kebisuannya, anak itu seakan berkata; “Aku butuh uluran tanganmu.”
Suster itu bertanya keras; “Yesus, apakah Engkaupun datang untuk anak yang malang ini?? Dan apakah yang harus aku perbuat???”
Peristiwa ini ternyata menjadi awal pertobatan suster tersebut, yang selanjutnya mengabdikan diri untuk hidup bersama kaum miskin, membantu mereka untuk bangun dan membantu diri sendiri.
Jika banyak orang di sekitar kita membutuhkan ketulusan uluran tangan kita. Komunitas kitapun dalam salah satu cara selalu membutuhkan uluran tangan kita.

@Roma, 2007-2008, P. Ansel Meo SVD

Jumat, Mei 30, 2008

KOMUNITAS UNTUK SAUDARA & PELAYANAN (4)

Renungan Ketiga :

Komunitas Persaudaraan - Jangan Menyebabkan Penyesatan

1. Lagu / Doa Pembukaan
2. Bacaan : Matius 18 : 6-9
6"Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. 7Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
8Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. 9Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.
3. Memahami Teks dan Strukturnya
Membaca penggalan Injil ini, kita bisa mengatakan secara singkat bahwa ada tantangan yang dimunculkannya. Ajakan Yesus di sini memang sangat menantang dalam hidup seorang murid. Pertanyaannya “Apakah mungkin komunitas Murid Yesus dapat saling mendukung dan saling menanggung di dalam hidup bersama mereka sebagai murid?” Tantangan dan kesulitan seperti inilah yang kiranya memunculkan awasan di atas “Janganlah kamu menyebabkan penyesatan!”.
Untuk lebih memahami maksud teks ini, kita perhatikan struktur teks Injil ini secara teliti. Dan hemat saya kita bisa membaginya tas tiga bagian penting:
(a). Pengantar tentang tema-tema kunci (Mt 18:6) : Teks ini dimulai dengan satu introduksi atau pengantar sbb, “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku.” Pesannya sangat jelas yakni siapa yang menyebabkan penyesatan, siapa yang menyebabkan orang jatuh atau berdosa digolongkan sebagai orang yang melakukan pelanggaran berat.
Ungkapan ‘menyesatkan’ atau menyebabkan penyesatan adalah salah satu cara untuk mengatakan tentang tanggapan atau reaksi negatip atau penolakan terhadap warta yang dibawa Yesus. Juga dipakai untuk melukiskan juga tentang keadaan seorang murid yang mulai percaya kepada warta Yesus tetapi kemudian menjadi ragu-ragu untuk menjadi murid karena menghadapi tantangan, kesulitan dan penganiayaan. Hal seperti ini bisa ditemukan dalam Mt 13,21 dalam perumpamaan tentang penabur. Kata ‘sesat’ juga ditemukan dalam Mt 13,41-42 bahwa anak manusia akan mengadili orang yang menyesatkan dala pengadilan eskatologis. Lebih dari itu, kata sesat juga dipakai untuk menegur Petrus dalam Mt 16,23 ketika Yesus mengatakan “Engkau suatu batu sandungan bagiku.”
Selain kata ‘sesat’ Yesus juga menggunakan ungkapan kunci lain di sini yakni “salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepadaKu.” Maksud apa sebenarnya di sini? Yesus mau tunjukkan tentang betapa rapuh dan lemahnya para murid ketika berhadapan dengan tantangan dan kesulitan. Dan ungkapan ini tak hanya ditunjukkan hanya kepada sekelompok murid tetapi semua murid Yesus karena semuanya rapuh tetapi semua mereka juga percaya kepada Yesus. Mereka ini kecil baik karena jumlahnya sedikit maupun karena mereka memang lemah (7:13-14). Ini benar jika mereka berhadapan dengan para elit baik politik, sosial, ekonomi maupun agama. Mereka tak memiliki kekuatan sedikitpun. Kendatipun mereka demikian, bagi Yesus mereka adalah para agennya, mereka diutus (Mt 10, 1-5), yang dikuatkan oleh Roh Kudus (Mt 10,20) dan bagi mereka ada jaminan bahwa mereka akan berhasil melaksanakan rencana Allah jika mereka tetap setia (Mt 10,32-33). Bagi Yesus mereka ini dilukiskan sebagai ‘mereka yang percaya kepadaKu”.
Dari mereka ini Yesus meminta kepercayaan dan kebergantungan mereka kepadaNya dalam pelaksanaan misiNya. Dan Yesus menunjukkan secara jelas bahwa kepercayaan yang kuat kepadaNya memang tak Ia temukan di antara para elit tetapi di antara orang kecil dan terpinggirkan (Mt 8,10.13; Mt 9;2.23.28-29). Bagi Yesus, para murid yang kecil inilah yang menunjukkan iman kepadaNya, sedangkan orang banyak dan para elit tidak menunjukkannya (Mt 6,30; Mt 14,31 dan Mt 16,8).
Karena itulah Yesus dengan sengaja mau menegaskan bahwa yang mengubah atau menghancurkan iman para pengikutNya berarti akan mengalami penyiksaan dan hukuman yang tidak ringan. Dan hal itu diungkapkan dengan, “lebih baik baginya, jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” Jadi Yesus meminta para muridNya untuk taat, setia kepadaNya.
(b). Penghakiman dan Hukuman Allah kepada yang menyesatkan (Mt.18.7). Ancaman yang disampaikan Yesus disertai dengan dua kali ucapan “Celakalah”. Untuk apa sebenarnya ucapan ini? Ini sebetulnya menjelaskan ttg Allah yang tidak mentolerir dan akan menghukum tindakan penyesatan (Mt 11,12).
Ada dua ucapan ‘celakalah!’ di sini. Yang pertama, dialamatkan kepada dunia karena realitas dunia dan strukturnyalah yang pertama-tama menyebabkan penyesatan terhadap para murid Yesus. Dunia menjadi batu sandungan justru karena struktur dan prioritas yang ditawarkannya kepada manusia seringkali amat bertentangan dengan apa yang diwartakan Yesus (bdk Mt 13,22). Karya dunia adalah pengaruh kuasa kejahatan yang menghalangi pencapaian rencana dan maksud Allah. Dan orang-orang yang menjadi agen yang melawan maksud Allah itu juga digolongkan ke dalam kelompok ini, antara lain seperti Petrus dalam Mt 16, 22.23. Selain itu ungkapan celakalah yang berikutnya ditujukan kepada yang lebih khusus, yakni “celakalah orang yang menyebabkan penyesatan.”
(c). Tuntutan kepada para murid untuk menghindarkan diri dari penyesatan (Mt 18,8-9). Kelihatannya agak keras dan berlebihan gaya bahasa yang dipakai di sini tetapi maksudnya sangat jelas yakni agar para murid Yesus sejauh dapat menghindarkan diri dari tindakan dan upaya untuk menyesatkan orang. Mengapa hal ini disampaikan di sini?
Rupanya karena Yesus mau supaya para murid sungguh bisa mengambil bahagian dalam hidup kekal yang diwartakanNya dan lebih dari itu Ia mau agar para muridNya tidak tercampakkan dalam api neraka. Jadi maksudnya ialah Yesus minta agar komunitas murid Yesus tidak menjadikan dosa sebagai prinsip yang memerintah dalam komunitas mereka.
Jadi secara singkat, ajakan Yesus untuk “Jangan Menyebabkan Penyesatan dilandasi oleh dua alasan mendasar ini,
Bahwa Allah sama sekali tidak mentolerir orang yang menyebabkan perbuatan sesat, orang yang membuat orang lain tidak percaya dan karenanya Allah pasti menghukum mereka.
Bahwa para murid sebaiknya menghindari tindakan penyesatan supaya mereka bisa mengambil bahagian dalam hidup kekal dan tidak dicampakan ke dalam api neraka.
4. Untuk Kita Renungkan
Apakah yang dapat kita ambil sebagai hikmah teks Injil ini bagi kehidupan kita sebagai orang Kristen dan khususnya sebagai komunitas religius? Saya ingin menekankan beberapa persoalan kunci yang bisa kita aplikasikan dari warta Injil yang kita renungkan ini.
(a). Komunitas Murid Yesus akan selalu berhadapan tantangan dan kesulitan serta penyesatan :
Benar rupanya kalau ada anggapan bahwa menjadi anggota komunitas murid Yesus, atau menjadi anggota komunitas biara mengandaikan pemahaman yang lebih baik tentang hidup membiara itu sendiri, berikut pemahaman yang baik tentang manusia-manusia yang bergabung di dalamnya. Yesus mengingatkan kita tentang kemungkinan ini ketika Dia secara gamblang mengeluarkan ucapan “celakalah” dalam teks di atas. Mengapa hal ini penting kita sadari? Mungkin pertama-tama terletak dalam kenyataan bahwa cara hidup membiara adalah suatu cara hidup yang berlawanan dengan dunia. Struktur dan tawaran yang diberikan dunia bertolak belakang dengan ajakan Yesus untuk menghidupkan gaya hidup komunitasnya.
Hal ini bisa kita temukan secara kasat mata kalau kita mendalami konsep-konsep tentang kepemimpinan, tentang pelayanan, tentang penggunaan harta dan kehendak dalam praktek kehidupan komunitas kita. Tidak sulit menemukan usaha dan upaya anggota komunitas biara untuk memasukkan ke dalam hidup komunitas biara segala hal yang berasal dari mentalitas birokrasi politik yang haus kekuasaan, gaya hidup pelaku ekonomi yang mencari keuntungan, dan kebebasan yang dicanangkan kaum liberal yang mau bebas segalanya. Inilah penyesatan-penyesatan nyata yang sementara terjadi di dalam biara.
Belum lagi orang biara mulai dengan gencar menggantikan cara syering dan dialog dengan menyebarkan isyu, mencari popularitas diri yang sempit, dan menggalangkan dukungan melalui upaya membayar dengan uang, dsbnya.
Sebagai orang biara, kita harusnya sadar bahwa hal ini merupakan pelanggaran berat dan dalam upaya menjadi murid Yesus hal ini harus dilihat sebagai masalah dan harus dinyatakan secara terbuka sebagai masalah komunitas. Semua anggota komunitas harus menentangnya. Dan kalaupun tidak banyak lagi yang percaya bahwa hal itu salah, kelompok kecil inilah yang harus tetap setia menghidupkan kepercayaannya dan berusaha untuk melawannya baik dengan menyebarkan secara nyata maupun dengan mendoakannya.
Pertanyaan Refleksi : Apakah yang bisa anda kategorikan sebagai penyesatan dalam kehidupan komunitasmu?
(b). Murid Yesus perlu mengusahakan secara aktif upaya menghindari aksi menyesatkan orang lain :
Mendiamkan pelanggaran atau hal yang salah seperti hal-hal yang telah saya sebutkan di atas, sama artinya dengan menyetujui praktek yang berlawanan dengan kehendak Tuhan itu bertumbuh subur. Karenanya adalah suatu panggilan dan komitmen bagi para anggota komunitas biara untuk menghindari aksi atau upaya menyesatkan komunitasnya. Dan hal ini harus dibuat sebagai suatu komitmen, suatu upaya berkelanjutan, suatu aksi nyata.
Bagaimana caranya ?
Dengan membuat penyadaran dan auto-refleksi. Komunitas dengan berani merefleksikan hidupnya bersama para anggotanya tentang tantangan dan masalah yang tengah dialami saat ini dalam komunitas. Auto refleksi ini harus juga sampai kepada sikap untuk menyatakan bahwa hal itu memang masalah yang harus diupayakan jalan keluarnya secara bersama.
Membudayakan syering bersama sebagai upaya saling mendengarkan. Perhatikan bahaya majoritas dalam memenangkan suatu program. Syering yang membangun komunitas harus menyata juga dalam tindakan mendengarkan alasan-alasan yang kekemukakan oleh kelompok kecil yang melawan program yang disampaikan oleh orang kebanyakan. Dan tentu hal dasar penting ialah semuanya harus berangkat dari iman akan Allah dan rencanaNya.
(c). Urusan ganjaran dan hukuman bukanlah urusan komunitas atau urusan masing-masing kita tetapi hak Allah :
Komunitas bukan dimaksudkan pertama-tama memberikan hukuman dan ganjaran atas kegagalan atau keberhasilan anggotanya. Komunitas dimaksudkan pertama-tama sebagai tempat, orang yang memungkinkan para anggotanya diterima sebagai anggota yang berharga, utuh dan dipercayai. Menjadi sahabat itulah permintaan Yesus kepada para muridnya dan kepada masing-masing anggota komunitas.
Lalu bagaimana dengan orang yang melakukan pelanggaran atau penyesatan? Kita mesti memiliki sikap ini bahwa itu haknya Allah dalam mengganjari ataupun menghukum orang yang melakukannya. Dan hal itu bisa terjadi lewat tangan dan keputusan pimpinan yang lebih tinggi ataupun pengadilan suara hati seseorang.
Berhadapan dengan suara hati inilah, kita bisa mengerti maksud Yesus ketika menyatakan “lebih baik baginya jika ....” Yesus mau agar hati kitalah yang memutuskannya bukan orang lain yang mengatakan bahwa kita salah.
(d). Kesetiaan kepada maksud dan tujuan bersama komunitas adalah tugas kita :
Lalu apa yang menjadi tugas utama masing-masing anggota komunitas? Apakah yang menjadi tugas utama seorang yang menyatakan dirinya sebagai murid Yesus?
Bila Yesus menyebut sekelompok kecil muridnya sebagai orang yang percaya kepadaNya, dalam kaca mata ini, kita mesti yakin bahwa perlu ada orang yang tetap percaya tentang maksud sebuah komunitas didirikan yang seuai dengan maksud dan rencana Tuhan. Dan di sinilah kita bisa memahami gereja atau komunitas biara sebagai contrast-society, masyarakat alternatip. Jadi kesetiaan untuk tetap percaya akan maksud bersama hidup komunitas harus tetap menjadi milik anggota komunitas religius.
Dan mesti kita akui bahwa hal-hal yang ditekankan di sini tidak mudah. Karena sering sekali penyesatan tidak ditemukan terutama pada orang lain atau unsur luar dari komunitas kita tetapi sering kali berasal dari diri kita sendiri.
Kisah di bawah ini barangkali bisa membantu kita dalam mengidentifikasi manakah kiranya penyesat dalam komunitas kita. MUSUH DALAM MIMPI.
5. Penutup
Ada seorang lelaki. Suatu malam ia bermimpi buruk. Dalam mimpinya ia melihat seorang serdadu bertopi putih, bersepatu putih. Di pinggangnya terselip sebilah pedang yang bersarung hitam. Ketika kedua mata mereka berpapasan, serdadu tersebut dengan serta-merta mengeluarkan kata-kata cacian, kata-kata jahat yang sungguh pedas yang ditujukan padanya. Serdadu tersebut juga secara kejam meludahi wajahnya. Sungguh suatu penghinaan yang teramat besar. Selama hidupnya belum pernah ia dihina seperti ini.
Ketika bangun pagi, dipenuhi dengan perasaan yang kurang enak ia menceritakan kisah hina yang menimpa dirinya dalam mimpi semalam. 'Sejak kecil hingga kini saya belum pernah dihina oleh orang lain. Tapi malam tadi, saya bukan saja dihina, bahkan wajahkupun diludahi. Aku sungguh tidak bisa terima diperlakukan secara demikian. Aku harus menemukan orang ini dan memberikan imbalan yang setimpal.' Kata lelaki itu penuh rasa benci sambil menggertakan giginya.
Sejak itu, setiap hari setelah bangun tidur ia akan berdiri di persimpangan jalan yang ramai dilewati orang, dengan harapan suatu saat bisa menemukan musuh yang dilihatnya dalam mimpi itu. Seminggu, sebulan, setahun kini berlalu. Orang yang dicari itu tak pernah menunjukkan batang hidungnya. Lelaki tersebut telah menghabiskan separuh dari waktu hidupnya hanya demi sesuatu yang tidak nyata. Ia meracuni hatinya sendiri dengan rasa benci hasil ciptaannya sendiri.
6. Untuk direnungkan sendiri :
Sering kita menciptakan musuh yang tidak real, dan memupuk kebencian dalam hati yang pada baliknya merupakan racun yang menghancurkan diri sendiri.
Ketahuilah: Ketika anda membenci, anda sendirilah yang menjadi korban kebencian anda.

@ Roma, 2007-2008, P. Ansel Meo SVD

KOMUNITAS UNTUK SAUDARA & PELAYANAN (3)

Renungan Kedua :

Komunitas Persaudaraan - Menjadi Seperti Anak Kecil

Bacaan : Mat 18:1-5
1Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" 2Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka 3lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 4Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. 5Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."
Teks dan Penjelasannya
Pertanyaan para murid : “Siapa yang terbesar dalam Kerajaan Allah?” Para muridlah yang mengajak Yesus untuk memberikan pengajaran kepada mereka dengan pertanyaan di atas. Tetapi mengapa mereka bertanya kepada Yesus tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?
Kelihatannya ada beberapa penjelasan yang mungkin dapat diberikan berhadapan dengan pertanyaan para murid kepada Yesus.
(1) Mungkin saja karena dipengaruhi oleh peran yang diberikan Yesus kepada Petrus, kendatipun perangai Petrus yang tak mudah diatur (lihat Mat. 16;16-19, 22-23).
(2) Mungkin saja mau mengajak Yesus mau menantang cara berkuasa dari para penguasa dunia, yang dalam salah satu cara merelativisir kekuasaan mereka berhadapan dengan kekuasaan Allah. Dengan cara itu, dipertanyakan apa artinya kebesaran dan siapa yang sebenarnya memiliki kekuasaan di bumi ini?
(3) Mungkin juga muncul dari pernyataan Yesus ttg jalan salib dalam Mat 16,24. Karena menurut pandangan kekuasaan dunia, jalan salib adalah jalan kehinaan dan tak mungkin dipakai oleh penguasa dunia. Jadi kebesaran macam manakah yang bisa diperoleh lewat jalan seperti itu?
(4) Dan mungkin pula berangkat dari konteks kebudayaan mereka saat itu yang melihat kebesaran selalu berkaitan dengan pengumpulan harta, terdidik, melahirkan banyak anak, menjadi tuan tanah, memiliki jabatan dan kuasa atas orang lain. Jadi demi keuntungan pribadi dan status sosial (cf. ayat 20:25).
Jadi para murid bertanya, apakah kerajaan yang Yesus wartakan ini memang berbeda dari yang mereka kenal selama itu ataukah memang sama saja.
Jawaban Yesus : “Ia memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka.”
Jawaban Yesus memang menunjukkan penekanan yang sama sekali berbera. Kebesaran Kerajaannya tidak terletak dalam pemilikan atas wilayah, kontrol, kekayaan, dan seterusnya tetapi dalam sudut pandangan orang yang terbuang dan marginal dalam masyarakat. “Dia memanggil seorang anak dan ia menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu Ia berkata kpd para muridnya dan orang banyak.”
Anak di sini menjadi alat bantu yang bisa dilihat untuk menjelaskan tentang Kerajaan Allah yang tak kelihatan. Mengapa ? Karena “ANAK” di dalam dunia yang berpusatkan pada orang lelaki dewasa, sama sekali tak diperhitungkan, tak ada artinya, dan dilihat sebagai rentan terhadap bahaya dan tidak bisa diprediksi. Dalam dunia politik seperti ini anak selalu menjadi obyek kekerasan, menderita kelaparan, sakit. Kelompok masyarakat seperti ini bisa terlihat di antara orang-orang yang diundang ke pestanya Herodes, saat putrinya berdansa (Mt 14.6). Komunitas yang didirikan dan dimaksudkan Yesus justru bertentangan dengan komunitas masyarakat ini.
Anak sebagai metaphora/perumpamaan : “Ajakan untuk berubah dan Rendah hati seperti seorang anak” Ketika Yesus menghargai seorang anak (ayat 2), dengan sendirinya anak menjadi sebuah metafor atau perumpamaan tentang bagaimana seharusnya menjadi murid. Dan Dia bersabda, “Sungguh aku berkata kepadamu (5,18) jika kamu tak menjadi seperti seorang anak, kamu tak akan memasuki Kerajaan Sorga. Siapa yang merendahkan diri seperti seorang anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam kerajaan Sorga.”
Jadi menjadi anak artinya merendahkan diri. Dan ini bukanlah karakter pribadi yang harus dimiliki seseorang tetapi suatu pemberian status sosial atau penghargaan bagi yang lemah dan kecil.
Murid Yesus membentuk suatu komunitas anak-anak, orang pinggiran dan tanpa status sosial, demikianpun struktur sosial mereka. Dan inilah yang menjadi perhatian sentral Yesus yang tak lain adalah kehendak dan rencana Allah.
Dan Yesus memang menamakan dirinya seorang yang lembut dan rendah hati (5,5) dan Dia minta para muridnya menghidupkan gaya hidup seperti ini. Karena itu mereka harus berubah dan menghidupkannya supaya sesuai dengan komunitas baru yang Yesus inginkan. Mereka harus tahu bersyukur kepada Allah sama seperti Dia selalu mengucap syukur kepada Allah “Aku bersyukur kepadamu ya Bapa, …Kautunjukan kepada orang-orang kecil” (11,25)
Dan masuk Kerajaan Allah bukanlah suatu panggilan untuk menjadi murid lagi tetapi Yesus menyiapkan para murid yang sudah dipanggil itu berpartisipasi dalam rencana Allah.
Menerima anak kecil artinya menerima Yesus. Apakah Yesus picara tentang menerima seorang anak secara literal ataukah sebagai suatu metafor? Bisa kedua-duanya. Namun rupanya arti sebagai perumpamaan lebih ditekankan di sini.
Ada beberapa faktor penekanan di sini: (1) sudah ada hubungan antara anak dan murid Yesus (ayat 3-4) (2) hubungan lainnya adalah menjadi lembut dan rendah hati sebagai gaya hidup bermisi dari murid Yesus (3) Penggunaan arti yang sama dari kata menerima yang menunjukkan jawaban penuh kepercayaan dari para murid terhadap misi yang diterima dan (4) ada hubungan juga antara menerima murid Yesus dan menerima Yesus (10,40) dan (5) “Dalam Namaku” menekankan hubungan tersebut dengan arti misi. Nama Yesus mewakili misi penyelamatan dari dosa yang dibawa oleh Yesus.
Tetapi Yesus juga mengingatkan bahwa resiko ada yakni para murid akan dibenci oleh dunia serena nama Yesus ini (10,22) karena nama mereka menjelaskan gaya hidup mereka. Gaya hidup komunitas murid Yesus menantang dunia, tetapi tetap selalu ada orang yang menerima mereka.
Kisah Hidup :
“Andy, Anak yang Selalu Bersyukur”
Andy, adalah seorang anak kecil kelas 4 SD yang selalu mengucap syukur dalam keadaan apapun. Ia tinggal di suatu desa di suatu negeri. Setiap hari untuk sampai ke sekolahnya ia harus berjalan kaki melintasi daerah yang tanahnya berbatu dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang. Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, Andy selalu mampir sebentar ke Gereja untuk berdoa. Tindakannya ini diamati oleh Pastor Agus. Karena merasa terharu dengan sikap Andy yang lugu dan beriman tersebut. Suatu hari ketika Andy hendak masuk ke Gereja P. Agus menyapanya.
Pastor : "Selamat pagi Andy, apa kabarmu? Apakah kamu akan ke sekolah?"
Andy : "Ya, Bapa Pastor!" balas Andy sambil tersenyum.
Pastor : "Mulai sekarang saya akan membantu dan menemani kamu menyeberangi jalan raya tersebut setiap kali kamu akan menyeberang.
Andy : Terima kasih, Pastor."
Pastor : "sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
Andy : "Aku hanya ingin menyapa Tuhan Yesus... sahabatku."
Lalu Pastor itu segera meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya bersama Tuhan, tapi kemudian P. Agus bersembunyi dibalik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy.
Andy mulai berbicara kepada Sahabatnya
Andy : "Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun teman2ku yang lain melakukannya. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini.Terima kasih buat kue ini Tuhan!. aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini sepatuku yang terakhir..mungkin minggu depan aku harus berjalan tanpa sepatu. Engkau tahu Tuhan sepatu ini akan rusak, tapi tak mengapa..yang terpenting aku tetap dapat pergi ke sekolah.
TuhanKu, kata orang-orang kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, karena itu beberapa temanku sudah berhenti sekolah. tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi.
Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Sakit sekali, tetapi aku bersyukur karena masih memiliki seorang ibu. Dan rasa sakit ini pasti akan hilang. Lihatlah lukaku ini Tuhan ??? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini bekas lukanya (Andy memegang bekas lukanya) Tolong jangan marahi Ibuku ya..??? memang dia sedang lelah dan kuatir memikirkan kebutuhan makanan juga biaya sekolahku .. Itulah mengapa dia memukulku.
Oh ya..Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik dikelasku, menurutMu apakah dia akan menyukaiku?
Ah..bagaimanapun juga aku tahu bahwa Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapapun untuk menyenangkan hatiMu. Engkau adalah sahabatku.
Hei.. Tuhan temanku, ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja aku punya hadiah untukMu. tapi ini kejutan dan Aku harap Engkau menyukainya. Ooops aku harus pergi sekarang. Selamat siang"
Kemudian Andoy segera berlari keluar dan memanggil Pastor Agus.
Andy : "Pastor…..aku sudah selesai berbicara dengan Sahabatku, Tuhan Yesus, skarang anda bisa menemaniku menyeberang jalan!
Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen sekalipun.
Pastor Agus berbagi cerita ini kepada umat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah dan bersyukur saat situasi yang sulit terjadi seperti yang dimiliki Andy.
Saat hari Natal tiba, Pastor Agus jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Pengelolaan Gereja diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum, mereka selalu menyalahkan segala sesuatu yang diperbuat orang lain.
Hari itu tgl. 25 Desember ketika 4 wanita tua tadi sedang berada di gereja tiba-tiba masuklah Andy dan hendak menyapa Sahabatnya.
Andy: "Halo Tuhan..Aku ...'
4 Wanita : "Kurang ajar kamu bocah !!! Apakah matamu tidak melihat kami sedang berdoa ??!!! Keluar.!!!"
Andy begitu terkejut, karena tidak pernah ia diusir oleh Pastor Agus.
Andy: "Dimana Bapa Pastor? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya.. dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Sahabatku, hari ini adalah hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya ."
Ketika Andy hendak mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerah bajunya dan mendorongnya keluar. Andoy sedih, bigung dan setelah berpikir sebentar ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya tersebut.
Di situ ada sebuah tikungan yang tidak terlihat pandangan, sebuah bus melaju dengan kencang dan Andy mulai menyeberang sambil melindungi hadiah tadi di dalam bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tadi. Tiba-tiba brakkk ... (terdengar bunyi gaduh dan bus tadi berhenti mendadak) Apa yang terjadi? ternyata karena tidak bisa menghindari bus besar tadi Andy tertabrak dan tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh Andy yang sudah tak bernyawa.Sedih...Saat itu entah darimana munculnya tiba-tiba datang seorang pria berjubah putih dengan wajah yang lembut namun penuh dengan air mata, ia memeluk tubuh Andy dan menangis.
Orang-orangpun heran, mereka penasaran lalu bertanya; "Maaf Tuan, apakah anda keluarga bocah malang ini ? Apakah anda mengenalnya ?" Dengan hati yang berduka ia segera berdiri dan berkata : "Anak ini namanya Andy, Dia adalah sahabatku."
Lalu diambilnya bungkusan hadiah dari dalam baju Andy dan menaruh didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh Andy. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran...
Malam itu, Pastor Agus menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andy. Ketika P. Agus bertemu dengan orangtua Andy ia bertanya; "Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal ?" Ibu Andy menjawab sambil menghapus airmatanya: "Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." P. Agus bertanya lagi: "Apa katanya ?"
"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sedih, sepertinya Dia mengenal Andy dengan baik. Tetapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia membelai rambut Andy dan mencium keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu" Jawab ayah Andy.
P. Agus ; "Apa yang dikatakannya ?"
Ayah Andy menjawab; " Dia berkata Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu.engkau akan bersamaku." Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian. semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis karena bahagia .. aku tidak dapat menjelaskannya, ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi pastor tolonglah katakan siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? anda pasti mengenalnya karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali hari ini saat puteraku meninggal”
Tiba-tiba air mata P. Agus menetes dipipinya, dengan lutut gemetar ia berbisik, "Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa..., kecuali dengan Tuhan Yesus."
Andy memiliki hati yang selalu bersyukur. Walaupun situasi hidup yang dialaminya sulit tetapi ia selalu bergembira karena ia tahu Tuhan Yesus sahabatnya selalu mengasihi dia. Melalui peristiwa tabrakan tadi Tuhan Yesus datang menjemputnya ke sorga.
Untuk Kita Renungkan
Teks Injil dan cerita tadi memiliki beberapa pesan penting buat kita dalam upaya kita menghidupkan komunitas sebagai Komunitas Persaudaraan.
Kerendahan hati dan Opsi untuk melindungi anggotanya yang lemah: Ketika Yesus menampilkan seorang anak kecil dan mengajak para murid untuk menjadi seperti anak kecil, Yesus sesungguhnya menunjukkan dengan terang-terangan tentang siapa yang menjadi pilihan keberpihakanNya dalam pelayanan dan karya. Mereka yang paling lemah dan dipinggirkan dalam masyarakat. Sikap anak-anak memang tidak hanya digunakan sebagai metafor di sini tetapi menjadi pilihan identitas bagi para murid justru karena kesiapan mereka untuk dibentuk dan kepolosan mereka untuk menjadi kecil dan rendah hati. Komunitas kita hendaknya memiliki opsi ini dan berusaha terus menerus untuk belajar menjadikan kerendahan hati sebagai kekhasan identitas religius kita.
Bagaimana cara komunitas komunitas kita mewujudkan opsi dan identitas kerendahan hati di antara sesama anggotanya?
Komunitas murid Yesus adalah komunitas yang tahu bersyukur dan berdoa: Santu Paulus kepada umat di Roma (8:28) berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Pilihan Yesus untuk menjadi anak sebagai contoh juga disebabkan oleh karakter yang ditampilkan anak-anak yakni bahwa mereka percaya kepada orang besar, orangtuanya dan pendidik mereka. Karena itu mereka mudah bersyukur dan mudah diajak juga untuk menyatakan keinginannya dalam permintaan, doa. Kisah anak Andy di atas menunjukkan kecendrungan ini.
Menjadi komunitas religius hendaknya menjadikan kita para anggotanya tahu bersyukur dan mudah mengucapkan syukur dan mencari kehendak Allah bagi pelayanan dan hidup dalam doa. Doa baik itu pribadi maupun komunitas adalah nadi kehidupan komunitas dan di sana ekaristi sebagai perayaan syukur hendaknya menjadi keseharian kita.
Apakah komunitas kita adalah komunitas yang tahu bersyukur dan berdoa?
Komunitas yang Bersahabat: Yesus bersabda - “Kamu adalah sahabatku jikalau kamu berbuat apa yang kuperintahkan kepadamu” (Yoh. 15, 14). Yesus menyebut kita sebagai sahabatNya dan menyebutkan anak-anak sebagai simbol KerajaanNya. Makanya kerajaan Sorga yang diwartakannya tak lain adalah Kerajaan persahabatan.
Tidak cukup memang menjadi anggota komunitas religius tetapi harus berusaha juga mengembangkan persahatan yang sejati di dalamnya. Ini menuntut usaha untuk mengenal lebih baik anggota komunitas lain, mengharagai kelebihan dan kekurangannya dan melihat sesama anggota sebagai orang-orang yang bisa merealisasikan tujuan komunitas bersama-sama.
Apakah komunitas kita adalah komunitas persahabatan?
Komunitas yang menantang cara hidup dunia: Komunitas dengan gaya seperti yang dilukiskan di atas memang bukanlah komunitas kebanyakan yang bisa kita temukan. Menjadi komunitas religius artinya menjadi tanda yang menghadirkan komunitas Yesus dengan segala pertentangan yang dibawanya. Komunitas kita menghidupkan kaul-kaul kebiaraannya bukan sebagai show tetapi sebagai tanda bagi dunia bahwa Allah menghendaki cara hidup solider. Persaingan boleh ada tetapi solidaritas harus menjadi jiwanya.
Apakah komunitasku adalah komunitas yang solider?
Doa Tuhan Yesus yang baik... Seperti engkau mengenal Andy dalam cerita tadi, Engkau juga mengenal kami. Ampunilah kami jikalau selama ini kami tidak berlaku setia; Kami hanya mengucapkan syukur kepadaMu saat keadaan kami baik, tetapi ketika kami mengalami masalah dan kehidupan kami menjadi sulit kami mengeluh dan tidak mengucap syukur.Saat ini ya Tuhan Yesus...Ajarlah kami mengucap syukur Saat kami bersedih karena Engkaulah penghibur kami.Saat kami sakit karena Engkaulah dokter yang ajaib.Saat kami kecewa karena Engkau tidak pernah mengecewakan kami.Saat kami lemah karena Engkau memberi kekuatan kepada kami.Saat kami gagal karena Engkau tak pernah gagal.Saat kami putus asa karena Engkaulah penolong kamiTuhan Yesus yang baik...Kini kami tahu bahwa dengan mengucap syukur dalam susah dan senang kami menyenangkan hatiMu.
Engkau yang hidup dan bertahta bersama Bapa dan Roh Kudus kini dan sepanjang segala masa. Amin
@ Roma, 2007 - 2008 , P. Ansel Meo, SVD

KOMUNITAS UNTUK SAUDARA & PELAYANAN (2)

Renungan Pertama

Dua Puteri Menjadi Anggota Komunitas Murid Yesus

Teks : Markus 5 : 21 – 43. (Bandingkan juga Matius 19,18-26)
21 Sesudah Yesus menyeberangi lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, 22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya 23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." 24 Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan didekat-Nya.
25 Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. 26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya, malah sebaliknya keadaanya makin memburuk. 27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. 28 Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." 29 Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. 30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" 31 Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" 32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu, 33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. 34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"
35 Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" 36 Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!" 37 Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes saudara Yakobus. 38 Mereka tiba di rumah kepada rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. 39 Sesudah itu Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut, dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" 40 Tetapi mereka menertawakan Dia.
Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. 41 Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum" yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" 42 Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. 43 Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.
***
Apa yang kita lihat di sini merupakan satu dari sekian banyak contoh dalam Injil Markus tentang apa yang disebut dengan teknik narasi sandwich atau roti lapis, di mana dua ceritera berbeda digabungkan menjadi satu. Ceritera pertama umumnya dibagi menjadi setengah-setengah dan ceritera kedua dimasukkan di antara keduanya. Tetapi tidak semua ahli KS setuju dengan pendapat ini, dengan menegaskan bahwa keterlambatan Yesus tiba di rumah Yairus yang disebabkan oleh penyembuhan wanita itu adalah bahagian integral dari ceritera Yairus. Dan lebih dari itu, kita temukan hal yang tak biasa di sini, bahwa seorang pegawai tinggi agama Yahudi memiliki iman yang kuat akan Yesus. Tapi mungkin inilah karakter historis yang khas dari kisah ini.
Kisah ini dibangun dari penyembuhan dari satu orang yang menghantar kepada penyembuhan bagi yang lain. Juga termasuk bagaimana kontrasnya kesaksian terang-terangan yang diberikan oleh wanita yang menderita pendarahan dan perintah untuk diamkan kisah penyembuhan dari puteri Yairus.
Yang jelas, perikope ini mau tunjukkan kepada pembaca dan kita bagaimana caranya Injil atau khabar gembira menjangkau mereka yang berada dalam lapisan paling dasar suatu komunitas atau masyarakat ( wanita tanpa nama yang menderita pendarahan dan dicap sebagai orang tak bersih) dan mereka yang ada pada tingkat paling tinggi dalam masyarakat atau komunitas (Yairus dan keluarganya).
1. Ayat 21 – 27 : Kisah dimulai sekali lagi dengan peristiwa Yesus dikelilingi banyak orang ketika Dia mendarat di pantai Danau Galilea. Yesus kemudian didekati oleh seorang kepala sinagoga, yang putrinya dalam keadaan sakit hampir mati, yang melupakan posisi serta kebanggaan status kemasyarakatannya berlutut di depan kaki Yesus sambil meminta pertolongan Yesus. Biasanya kata ‘tersungkur di depan kaki’ hanya dibuatnya sebagai bentuk ibadah, yang rupanya tidak dimaksudkan di sini. Lalu situasi anaknya juga dilukiskan dengan ‘sakit dan hampir mati’. Dan Yesus dimohon dengan sangat untuk datang dan meletakkan tangan atas gadis kecil itu, yang pada ayat 42 dilukiskan sebagai seorang yang berumur 12 tahun.
Yesus setuju dengan permintaan itu dan ketika Dia menuju rumah Yairus, banyak sekali orang berdesak-desakan di dekatNya. Kayak di pasar Senggol di Ende atau pasar Porta Portese di Roma rupanya. Dan di antara mereka ini ada seorang wanita yang menderita pendarahan selama 12 tahun. Markus sebut juga bahwa dia keluarkan banyak uang untuk mendatangi berbagai dokter, tapi tak sembuh malah semakin miskin. Dan kontrasnya, Yesus sang penyembuh sejati akan menyembuhkan wanita ini tanpa biaya sedikit pun. Wanita ini juga mungkin digolongkan sebagai wanita yang tak bersih karena sakit pendarahan (sebagaimana disebutkan dalam Imamat 15:25-30). Dan dengan harapan akan suatu penyembuhan, dia menyentuh jumbai jubah Yesus yang biasanya dimiliki oleh orang yang menjalankan Taurat dengan baik (Bil. 15:38-40; Ul. 22:1-2). Dan Markus menyatakan bahwa Yesus memiliki kekuatan ini (bdk. Mk. 6:56)
2. Ayat 28 – 34 : Ayat 28 memberikan kita keterangan bahwa wanita ini percaya akan kekuatan magik dari Yesus, sehingga dia berpikir bahwa dengan menyentuh ujung jubahNya saja akan disalurkan kesucian dan kekuatan penyembuhan ke dalam dirinya yang membuat dia sembuh. Tetapi mungkin saja kepercayaannya itu hanya berdasarkan keterangan ttg kekuatan magis yang didengarnya tentang Yesus.
Ayat 29 menekankan bahwa tiba-tiba saja pendarahannya terhenti dan wanita sadar akan apa yang terjadi. Demikian juga yang terjadi dengan Yesus, bahwa Yesus sadar akan adanya kekuatan yang keluar dari diriNya. Maka, ayat 30, Yesus berpaling kepada orang banyak dan bertanya, “Siapa yang menjamah jubahKu?” Maksud pertanyaan Yesus ini rupanya supaya iman wanita itu berubah dari sebatas kepada seorang yang berkuatan magic kepada jubah orang kudus. Yesus nampaknya mau agar wanita ini memberikan kesaksian kepada orang banyak tentang imannya dan tentang penyembuhan yang diterimanya. Dalam arti tertentu, kita boleh katakan bahwa Yesus ingin memberikan satu contoh dari wanita ini tentang imannya.
Ayat 31 menjelaskan bahwa murid-murid Yesus tak memiliki pengertian secara spiritual, malah bego atau rasa heran bahwa Yesus tanya siapa yang sentuh Dia di tengah kerumunan orang banyak itu. Kelihatan di sini wanita ini mengambil resiko karena ia sebagai wanita tak bersih menyentuh orang yang dianggap suci. Makanya ayat 33, dia datang kepada Yesus dengan takut dan gemetar, lalu tersungkur di depan Yesus dan memberitahukan dengan tulus apa yang sudah terjadi. Dia mengaku dengan terus terang, karena sebenarnya ia ingin pergi dengan diam-diam tanpa diketahui orang, tetapi dia juga takut kalau-kalau nanti kedapatan (karena hal demikian tak diperbolehkan oleh agama Yahudi, bahwa wanita dengan sakit pendarahan berada di tempat umum). Tetapi Yesus menjamin si wanita ini dengan berkata, “imanmu telah menyelamatkan engkau, anakKu, Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu.” (bdk Yoh 5:6,9,11-15 dan Yoh 7:23).
Di sini Yesus menunjukkan bahwa bukan jubahnyalah yang menyembuhkan tetapi IMAN AKAN DIA-lah yang menjadi sarana dengannya dia menerima penyembuhan. Hal ini bertentangan dengan apa yang terjadi di antara para muridNya. Para murid seringkali menanggapi perkataan Yesus secara sederhana saja, ‘Siapa yang sentuh Aku?’ Perhatikan bahwa Yesus tidak hanya bahwa wanita itu sembuh tetapi juga menyatakan bahwa DAMAI ALLAH, SYALLOM atau keseimbangan itu kini menjadi milik wanita itu dan kini wanita itu bisa diintegrasikan kembali ke dalam komunitas. Jadi pernyataan Yesus (ayat 34) harus diartikan bahwa Yesus menginginkan agar si wanita ini tahu dan menerima bahwa dia sekarang menjadi utuh kembali, menjadi anggota komunitas lagi.
3. Ayat 35 – 43 : Sampai di sini utusan dari rumah Yairus datang dan melaporkan bahwa putrinya telah meninggal dan mereka bertanya, “Apa perlunya lagi merepotkan sang Guru lebih jauh?” Dan berikutnya (ayat 36) menunjukkan bagaimana Yesus tak peduli dengan penyampaian itu dan memberanikan Yairus untuk tetap percaya serta jangan takut. Dan ketika tiba di rumah Yairus, Yesus hanya membolehkan Petrus, Yakobus dan Yohanes dari mereka yang bukan penghuni rumah itu dan meninggalkan yang lainnya di luar. Mereka bertiga menjadi wakil untuk menyaksikan mukjisat, yang memang sangat penting dalam situasi di mana Yesus sudah dituduh bersekutu dengan setan (bdk Mrk 3). Dan Yesus kini akan mematahkan alat terakhir dari kekuatan kegelapan dan musuh terakhir yakni kematian,
Begitu memasuki rumah, Yesus melihat keributan dan tangisan di sana, dan Dia bertanya kepada mereka, kenapa berbuat seolah-olah gadis itu sudah mati, kataNya, “Dia tidak mati tetapi tidur.” Dan tanggapan mereka? Mereka menertawakan Yesus. Boleh jadi mereka ini para peratap bayaran ataupun anggota keluarga, yang memahami bahwa memang gadis itu akan terus hidup karena berada dalam keadaan koma.
Dan Yesus membawa ayah, ibu dan tiga orang murid itu ke kamar si gadis kecil. Dan di hadapan mereka, Dia memegang tangan anak itu (ayat 41) seperti yang dibuatNya kepada ibu mertua Petrus, tetapi di sini disertai dengan perintah, “Hai anak, aku berkata kepadamu, bangunlah!” (bahasa Aram : talita kum). Markus mau tunjukkan dengan ungkapan ini bahwa Yesus tak menggunakan formula magik untuk membangkitkan gadis kecil itu.
Dan cerita ini juga menunjukkan satu dari tiga kesempatan di mana Petrus, Yakobus dan Yohanes mengalami kejadian spesial bersama Yesus ( Mk 9:2, Mk 14:33 dan Mk 13:3). Untuk membantu gadis ini kembali normal, Yesus memberikan perintah bahwa mereka mesti memberi bantuan secara pisik karena gadis ini membutuhkan bantuan secara phisik yaitu memberi dia makan.
Makna dan Pesan
(a). Semua orang dapat menjadi anggota Komunitas Yesus, menjadi putera-puteri BapaNya, dan saudara-saudariNya.
Komunitas Yesus, demikianpun komunitas kita seyogyanya adalah komunitas yang terbuka bagi semua orang, siapa saja dari asal-usul mana saja dengan status apa saja dapat menjadi anggota komunitas. Pada mulanya memang semua orang diundang demikian, tetapi setelah diperkenalkan masuk ke dalam komunitas, para anggotanya diminta untuk memiliki iman akan Dia yang memanggil.
Jadi komunitas religius, komunitas murid Yesus sesungguhnya adalah komunitas beriman. Yesus menjadikan mereka putera dan puteri BapaNya dan saudara-saudaraNya, yakni mereka yang memiliki iman dan kepercayaan akan Dia.
Refleksi Pribadi : Sebagai orang terpanggil, apa yang menjadi dasar bagi kita untuk menjadi anggota komunitas Yesus? Atas dasar iman ataukah ?
(b). Mereka yang menjadi anggota Komunitasnya sekaligus menjadi saksi iman akan Dia di hadapan dunia (orang banyak).
Baik wanita yang sakit pendarahan maupun orangtua si gadis kecil dan para murid Yesus, sebenarnya tak pernah bermaksud agar hubungan mereka dalam iman akan Yesus diketahui orang banyak. Wanita anonim itu lebih suka tak diketahui identitasnya. Juga Yairus sebagai seorang kepala Sinagoga, pasti normal kalau tak mau bahwa orang tahu tentang kepercayaannya akan Yesus. Dua situasi yang kalau diketahui publik akan ditentang. Tetapi yang terjadi di sini ialah bahwa keduanya diminta untuk menampilkan diri terus terang, untuk menjadi saksi bagi yang lain.
Mereka diminta untuk bersaksi tentang Dia, tentang kuasa penyembuhannya, tentang karya kebaikanNya, tentang perhatian dan cintaNya kepada semua orang.
Kita dan komunitas kita tak pernah dimaksudkan untuk menjadi komunitas untuk diri sendiri, tetapi untuk misi, untuk kesaksian dan untuk pelayanan dan untuk itu, perlu memiliki iman dan kepercayaan bahwa Dia yang memanggil kita menghendakinya demikian. Komunitas kita bukan untuk membangun kenyamanan atau pelarian dari dunia dan kerumunan orang banyak, tetapi untuk menyatakan bahwa Tuhan sedang berkarya melalui kita.
Refleksi Pribadi : Sebagai kaum religius, bagaimana cara kita menghadirkan kesaksian iman akan Yesus di tengah dunia di mana kita hidup dan berada?
(c). Tujuan penerimaan ke dalam Komunitas adalah untuk mengembalikan syaloom, damai Allah, harmoni yang dikehendaki Allah, menjadikan orang utuh.
Baik wanita yang sakit pendarahan maupun gadis kecil puteri Yairus adalah dua figur yang mewakili mereka yang sebenarnya menyebabkan terjadinya ketakseimbangan dalam komunitas. Wanita anonim itu adalah seorang yang terbuang, dijauhkan dari tengah masyarakat karena sakit pendarahannya. Mereka ini praktisnya tidak boleh berada di tengah orang banyak, harus melihat diri sebagai orang kotor. Dan karenanya menderita sangat. Dan Yesus dalam pewartaannya mengutamakan kelompok orang terbuang seperti ini, itulah sebabnya ketika mengetahui ada kekuatan yang keluar dari dirinya yang dialami oleh wanita ini, Yesus membuatnya diketahui. Yesus mengembalikan dia ke tengah masyarakat, komunitasnya dan dengan mengembalikan dia, Yesus mengembalikan keutuhan dirinya dan keutuhan serta syaloom ke dalam masyarakat.
Begitupun dengan puteri Yairus. Usianya 12 tahun, dan terbaring sakit telah menyebabkan ketak seimbangan dalam keluarga Yairus, telah membuat Yairus terbagi perhatian dalam tugasnya.
Dan menyembuhkan keduanya adalah mengembalikan syaloom, damai, keutuhan, keseimbangan itu. Mereka adalah orang yang utuh, memiliki kedamaian, keharmonisan dengan semua.
Refleksi Pribadi : Apakah kehadiranmu dalam komunitasmu juga berarti hadirnya keutuhan ataukah Cuma perpecahan dan ketakharmonisan?
(d). Yesus juga yang mengalahkan kekuatan terakhir kuasa kegelapan yakni kematian dan murid harus menjadi saksinya
Kehadiran Yesus dan komunitasnya adalah tantangan kepada kuasa kegelapan, dosa, penyakit dan budaya kematian. Wanita anonim itu percaya sungguh bahwa Yesus adalah seorang yang suci dan agama Yahudinya mengingatkan bahwa menyentuh jubah orang suci akan membawa kebaikan, keselamatan dan penyembuhan. Begitupun Yairus melihat bahwa putrinya yang bergulat di hadapan maut hanya akan bisa sembuh kalau Yesus, orang suci ini mau meletakan tangan atasnya. Maka keduanya dengan penuh resiko (biarpun berbeda-beda resiko itu bagi mereka) memutuskan untuk meminta intervensi Yesus. Dan karena motif iman mereka akan Yesus, maka penyakitpun sembuh dan anak itu dibebaskan dari kematian.
Kita menjadi anggota komunitas religius juga seyogyanya memiliki sikap yang sama seperti mereka. Memiliki iman akan Yesus yang mampu mengalahkan kekuasaan kegelapan mesti menjadi milik kita. Dan lebih dari itu kita harus menjadi saksi bahwa bersama Yesus kekuatan yang membawa kematian, ketidakharmonisan bisa dipatahkan.
Refleksi Pribadi : Sebagai anggota komunitas religius, apakah anda menjadi saksi yang mematahkan kuasa kegelapan ataukah justru membuat kuasa kegelapan itu berkembang subur karena ketakpercayaanmu
@ Roma, 2007-2008 - P. Ansel Meo SVD

KOMUNITAS UNTUK SAUDARA & PELAYANAN (1)

Renungan Pembukaan :


“Guru, kepada siapakah kami akan pergi?”“Engkaulah Sabda Hidup Kekal!”
(Yoh. 6, 60-71)

Lagu dan DoaPembukaan
Mzm 8: 2-10
Pengantar
Saya memulai renungan pembukaan retret kita ini dengan sebuah kisah sederhana.
Seorang teman dengan penuh rasa sedih bercerita tentang pengalaman hidupnya yang membuatnya sakit. Setelah diam penuh keraguan, akhirnya ia mampu membuka mulut menuturkan kisahnya.
“Seorang teman yang saya kagumi secara tiba-tiba tanpa alasan yang saya ketahui kini berubah sikap. Dulu kami biasa bersama-sama, bermain bersama, daki bukit bersama, atau makan bersama. Saya berusaha mengingat lagi semua percakapan kami di saat-saat yang telah lewat, berusaha demi langit dan bumi mencari alasan yang membuat persahabatan kami menjadi sekian renggang pada akhir-akhir ini. Aku berusaha menemukan dan menghilangkan batu sandungan yang ada di antara kami. Namun semakin aku berusaha semakin pikiranku menjadi gelap. Indahnya persahabatan yang telah dibangun kini berada di pinggir jurang terjal.
Temanku seakan telah mengepak sisa-sisa persabatan kami dan kini disimpannya secara rapi di dalam sebuah kotak yang tak akan pernah dibuka lagi. Berhadapan dengan kenyataan ini, ada jutaan kata dan rasa di dada ini yang tak dapat aku ucapkan. Setiap kali ketika aku membongkar lagi kenangan masa silam, ketika aku melihat lagi foto-foto kenangan yang penuh tawa dan ria, bathinku serasa semakin pedih. Namun temanku tetap saja bersikap dingin, dingin dan dingin ... lebih dingin dari pada es batu di musim dingin. Secara perlahan akupun berubah dingin saat bertemu dengannya.
Waktu terus berlalu. Ketika aku menoleh lagi memperhatikan tapak yang pernah kami tinggalkan bersama, aku menemukan bahwa di bathinku masih ada kerinduan. Aku melihat sepasang tangan yang pernah terulur memberikan bantuan ketika aku terjatuh. Aku mendengar kata-katanya yang meneguhkan dan menguatkan ketika semangatku berubah layu. Aku melihat senyumannya seakan memberikan dukungan. Ah ada kehangatan ... walau itu sudah berlalu. Aku berkata pada diriku, walau ia kini tidak lagi seperti dulu, namun aku masih bisa menyimpan kenangan akan dirinya di salah satu sudut bathin ini. Mungkin ketika bertemu dengannya nanti ia akan tetap bersikap dingin. Namun itu adalah pilihannya. Aku akan memilih untuk memberikan seulas senyum bila aku masih diberi kesempatan bertemu dengannya nanti.
***
Rasanya jarang sekali - paling kurang bagi kita yang ada ini - kita menjalani tahun-tahun pembentukan kita sebagai religius secara sendirian. Kita pasti memiliki teman, entah itu teman-teman seangkatan ataupun saudara-saudari sekomunitas. Biarpun kita mungkin menjadi satu orang dalam seangkatan, kita mengalami masa pembentukan kita dengan pembimbing. Jadi ada komunitas – yang kita kenal sebagai – komunitas religius.
Dan komunitas macam ini menjadi bagian integral dari perjalanan kita, yang membentuk kita dan memberikan kenangan khusus yang akan tetap kita bawa, ke manapun ayunan langkah kaki kita membawa kita. Biasanya, kalau pengalaman berkomunitas itu bagus, menyenangkan, banyak dari antara kita yang selalu menceriterakannya, membanggakannya. Di lain pihak ada pula yang mengakhirinya dengan cara mengepaknya baik-baik dan rapi lalu menyimpannya tanpa mau mengingatnya lagi. Pasti ada kerinduan yang menyertai kita tentang masa-masa pembentukan, yang membuat orang ingin bernostalgia bersama, ber-reuni dan menghidupkan kembali masa-masa pembentukan itu untuk suatu peringatan atau setelah kita mencapai satu tahapan tertentu dalam perjalanan panggilan kita.
Kita buka retret kita hari ini. Dan tema yang akan coba kita dalami bersama tahap demi tahap adalah KOMUNITAS UNTUK SAUDARA DAN UNTUK PELAYANAN. Satu tema yang besar dan luas, tetapi saya kira satu hal mendasar yang tetap berlaku sejak Yesus sampai sekarang ialah bahwa komunitas Murid Yesus yang Sejati hendaknya adalah Komunitas Para Sahabat, karena Yesus Menciptakan Komunitas MuridNya sebagai Sahabat. Karena itu, saya punya satu keyakinan bahwa menjadi anggota komunitas religius memang tak cukup dengan menegakkan semua peraturan secara sempurna, tetapi ketika para anggotanya bisa menjadi sahabat satu bagi yang lain. Dan tentu saja membangun komunitas semacam itu adalah sebuah usaha berkelanjutan, sebuah ziarah atau perjalanan bersama Sang Sabda. Komunitas Yesus, Komunitas Murid Yesus adalah komunitas yang dibentuk sekitar Sabda Allah, yang diwartakan Yesus. Begitupun komunitas Kristen seyogyanya dibangun atas SabdaNya.
***
Teks Yohanes 6 : 60 – 71 :
Murid-murid yang mengundurkan diri di Galilea dan Pengakuan Petrus

6:60 Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"
6:61 Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?
6:62 Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?
6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
6:64 Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.
6:65 Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya."
6:66 Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.
6:67 Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"
6:68 Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;
6:69 dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."
6:70 Jawab Yesus kepada mereka: "Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis."
6:71 Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu.

Menjadi anggota komunitas memang bukan hal yang gampang. Apalagi menjadi anggota komunitas religius. Gampang-gampang susah, dan hemat saya memang lebih banyak susahnya, daripada gampangnya. Gampang untuk mengkotbahkannya, tapi sulit untuk merealisasikannya. Tapi apa boleh buat, Sabda Tuhan harus tetap diwartakan. Dan kalau suatu komunitas Kristen sejati harus menjadi komunitas para sahabat, maka di sinilah tempatnya setiap anggota komunitas bertanya tentang jati dirinya, bukan jati diri orang lain. Dan pertanyaan tentang jati diri itu sama pentingnya dengan merelasikannya dengan Sang Guru yang kita ikuti. Jadi pertanyaan pertama dan utama memang ditujukan kepada diri sendiri : “SIAPAKAH AKU DAN SIAPAKAH DIA YANG KUIKUTI?” Bagaimana saya membentuk komunitasku sesuai maksud sang Guru sendiri?
Selain pertanyaan seperti ini, ada banyak pertanyaan lain yang akan muncul ke permukaan, seperti halnya Injil yang barusan kita baca. Kita lihat beberapa poin penting yang ditekankan dari bacaan tadi, sekedar mengingat kembali sambil merefleksikannya secara pribadi.
§ "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"
§ Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia
§ Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"
§ Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."
Ketika Aku Ingin Lari
Seorang ibu berkisah tentang kepedihan pengalaman hidup perkawinannya: "Suamiku amatlah bersifat paternalistik dan amat bersifat mengontrol. Karena itu aku harus tunduk padanya hampir dalam segala hal. Aku tak boleh memiliki pikiran sendiri. Bila ia merasa bahwa gagasan, ide atau pikirannya ditantang, maka ia akan dengan begitu mudah mencaci-maki, serta membuang barang apa saja yang ada di hadapannya. Sungguh, tindakan dan sikapnya selalu membuatku seakan hidup dalam bayang-bayang ketakutan."
"Pada awalnya saya hanya menanggapi segala sikap dan tindakannya dengan deraian air mata. Pernah pula terlintas suatu pikiran untuk melarikan diri dari rumah ini dan meninggalkan suamiku untuk selamanya. Namun setiap kali aku melihat anakku yang masih kecil, anakku yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu, maka keinginan ini terpaksa aku pendamkan. Walau aku mencoba untuk menyimpan dan merenungkan semuanya dalam hatiku, namun aku tak memiliki hati seorang Maria sang ibu Yesus. Aku terus dan selalu merasa ada luka yang mengucurkan darah di sudut hatiku."
"Syukur bahwa akhirnya aku lolos dalam ujian masuk perguruan tinggi. Masa-masa belajarku dan kesibukan di kampus membuatku lupa akan kekerasan suamiku. Walau di rumah hanyalah kedinginan serta bentakan kemarahan serta caci-maki yang aku peroleh, namun perlahan-lahan saya akhirnya mampu memiliki suatu pekerjaan yang baik. Aku memaksa diri untuk bekerja sambil belajar. Bukan karena saya adalah wanita yang hebat yang bisa berpijak dalam dua dunia yang berbeda, tetapi karena aku takut berada di rumah. Aku takut melihat kemarahannya yang muncul bagaikan gunung api yang lagi meledak ganas. Aku takut mendengar suara piring dan gelas pecah yang dihamburkan tangan kasarnya."
"Namun empat tahun kegiatan belajarku akhirnya harus berakhir. Kalau dalam empat tahun yang lalu saya hanya bisa bertemunya dalam jangka waktu yang pendek saja, kini hampir setiap waktu aku memandang wajahnya. Setiap saat saya harus bersiap diri menerima serangan musuh yang adalah suamiku sendiri. Namun kali ini aku telah berubah. Kalau dulu aku hanya bisa menangis dan menangis, kini aku memilih diam dan tenang. Ketika amukan kemarahannya datang menghadang, aku akan memegang sebatang pensil dan kutuliskan semua gejolak bathinku menjadi sebuah kisah. Pedihnya hidup sebuah perkawinan yang aku alami kini kubeberkan ke atas sebuah kertas putih. Ia tak hanya membantu menyembuhkan diriku yang terluka, tetapi aku yakin bahwa kisahku juga telah membantu banyak orang yang mengalami hal yang hampir serupa dengan diriku."
"Dan...sebuah mukjizat terjadi. Keputusanku untuk memilih diam ternyata telah menjadi sarana yang ampuh untuk merubah sikap suamiku. Ketika suaranya yang menggelegar hanya disambut oleh keheningan, perlahan-lahan ia merasa tak perlu harus berteriak secara keras demikian. Iapun mulai belajar bagaimana harus diam untuk mendengarkan kata-kataku. Kini...sudah beberapa kali aku berkata pada diriku; aku mencintai keluargaku. Pikiran untuk melarikan diri dari keluarga ini tak akan pernah kembali lagi. Ternyata mimpi akan sebuah kehidupan keluarga yang rukun, tak begitu saja terwujud. Aku pernah harus mencuci mukaku dengan air mata. Aku pernah harus menjadi bagai seorang budak. Namun kini aku menikmati hasil jerih payah yang pernah ditaburkan itu."
Sang ibu yang kini duduk di hadapanku memberikan sebuah senyum. Aku yakin itu adalah senyum kepuasan, senyum yang muncul setelah suatu pergulatan yang panjang.
***
Pengalaman sang ibu dalam kisah ini, boleh jadi tak mengungkapkan kenyataan pemgalaman kita, tetapi saya yakin dalam salah satu cara, pengalamannya mewakili juga pengalaman yang sedang kita alami. Lebih dari itu, pengalaman ini membukakan kita sebuah horison, cara pandang tentang siapakah kita, dan bagaimana seharusnya kita menanggapi situasi yang ‘acapkali keras’ dalam komunitas-komunitas yang kita hadapi.
Ingin melarikan diri dari kenyataan, tentu bukanlah hal yang patut dibuat, mengingat kita sudah terlanjur jauh menapaki perjalanan panggilan kita. Maka menurut pembimbing novisiatku dulu, menghadapi itu semua harus dipertimbangkan untuk dipilih Jalan yang Benar, yang kiranya dapat dilukiskan sebagai :
§ Refleksi Diri dan Hidup untuk menemukan Strategi untuk mengatasi kesulitan hidup
§ Keheningan dan Diam untuk mengatasi keributan dan pikiran untuk lari
§ Belajar dan Menulis untuk merangkumkan gerakan bathin
§ Memutuskan sebuah komitmen untuk Mencintai jalan yang telah dipilih.
Sabda Tuhan yang dipilih untuk refleksi ini juga mencerminkan TANTANGAN yang hampir sama. Yesus bukanlah Guru yang hanya mengedepankan bagi para muridnya sebuah pilihan dan kehidupan yang normal, tetapi sebuah kehidupan yang menantang dan keras. “Barangsiapa mau mengikuti Aku, hendaknya ia memikul salibnya dan mengikuti Aku,” demikian Ia pernah mengingatkan para muridNya. Sebuah perkataan yang keras dan menantang. Dan bagi yang kecil hatinya pasti bisa melarikan diri karenaNya. Maka tak heran, kita dengar tadi, “Perkataan ini keras, siapa yang dapat mendengarkan dan melaksanakannya?” Atau, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”
Tetapi mengapa Ia berbuat demikian? Di sinilah maksud utama pembentukan Yesus disampaikan. Ia mau pertama-tama membuat mereka sungguh MENGENAL JATI DIRI baik DIRI MEREKA SENDIRI, beserta segala gejolak dan kerinduan hati mereka, maupun DIRI SANG GURU yang mereka ikuti.
1. SIAPAKAH AKU SESUNGGUHNYA berhadapan dengan komunitasku? Dan di manakah tempat DIA yang kita ikuti sesungguhnya? Apakah aku sedang melarikan diri? Apakah motivasiku mengikuti Dia cukup murni dan teruji?
2. Apakah AKU SUNGGUH MENDENGARKAN DIA dan SABDANYA?
Bagaimana saya telah mengisi masa-masa kita berada dalam sebuah komunitas sebagai kesempatan mendengarkan DIA dan ROHNYA yang terus berbicara kepadaku?
3. Dan akhirnya APAKAH AKU MEMILIKI KOMITMEN untuk MEMUTUSKAN TENTANG SEBUAH CARA UNTUK MENCINTAI YANG COCOK UNTUK DIRIKU?

@Roma, 2007-2008 - P. Anselm Meo SVD